Mantan Ketua KPK Luncurkan Buku Testimoni Carut Marutnya Hukum Dibuka Antasari Lewat “Untuk Hukum dan Keadilan”

LENSAINDONESIA.COM: Mantan Ketua KPK yang menjadi terpidana kasus pembunuhan, Antasari
Azhar, menulis buku. Ia berkisah tentang pengalamanannya sebagai penegak hukum. Ia juga betutur tentang kasus pembunuhan yang menggulingkannya sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Buku berjudul “Untuk Hukum dan Keadilan” yang ditulisnya diluncurkan di Aula Universitas Al-Azhar, Kamis (15/9/2011) lalu.

Hadir dalam acara peluncuran itu pengacara Antasari, Maqdir Ismail, politikus Partai Gerindra Permadi, politikus
PKS Fahri Hamzah, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok dan Kastorius Sinaga serta pengusaha Edward Suryadjaja.

Pengacara Antasari Azhar, Maqdir Ismail mengatakan, buku tersebut berkisah tentang pemikiran Antasari saat berkiprah sebagai penegak hukum, baik pengalaman di kejaksaan maupun saat memimpin KPK. “Ada
soal kasus (Antasari Azhar), tapi sedikit saja,” ujar Maqdir.

Beberapa hal seputar kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjara (PRB) Nasrudin Zulkarnain, yang tewas Maret 2009 turut ditulis dalam buku itu. Nasrudin ditemukan tewas dengan luka tembak. Di pengadilan, Antasari didakwa sebagai otak pembunuhan tersebut.

Maqdir menambahkan, dalam buku itu Antasari menulis soal beberapa kejanggalan dalam kasus yang menjeratnya. “Ada fakta-fakta yang patut dipertimbangkan, misalnya misteri baju dan darah yang ditemukan, lalu soal asal SMS (Short Massage Service) serta keterangan para saksi soal SMS ada dalam bukunya,” beber Maqdir.

Selain soal pengalaman dan sedikit soal kasus yang menjeratnya, dalam buku itu juga terdapat beberapa kritik atas kekuasaan penyelenggara negara. “Ada kritik terhadap penegakan hukum, maupun cerita pengalaman
saat beliau menangani perkara,” kata Maqdir.

Istri terpidana Antasari Azhar, Ida Laksmiwati, mengatakan bahwa buku testimoni Antasari Azhar untuk Hukum dan Keadilan itu setebal 540 halaman itu diperuntuhkan kepada generasi yang akan datang, mengingat carut
marut penegakan hukum di Indonesia.

“Karena adanya carut marut penegakan hukum di Indonesia, Bapak (Antasari) prihatin sekali. Jadi ini untuk generasi yang akan datang supaya jangan berbuat seperti keadaan hukum yang sekarang berkembang
di Indonesia,” jelas Ida Laksmiwati, usai peluncuran buku.

Ida membantah, bahwa diterbitkannnya testimoni Antasari ini untuk membangun opini publik, melihat kasus yang melilit terpidana 18 tahun penjara tersebut. “Oh nggak ada untuk mempengaruhi publik, karena dalam buku itu hanya menjelaskan penegakan hukum yang seharusnya dikerjakan, begini yang tidak dikerjakan. Bukan karena kasus bapak ya,” ujarnya

Ida menambahkan, buku testimoni ini dibuat selama 6 bulan dari karya Antasari Azhari yang berawal dari sel tahanan Bareskrim Mabes Polri hingga dipindahkan ke Lapas Kelas I Tangerang dengan cover depan
wajah mantan pimpinan KPK.

Istri Antasari ini berharap, dengan terbitnya buku ini Indonesia kedepan memiliki sosok pemimpin yang tidak melakukan kesalahan yang ada. IAN/LI-10