LENSAINDONESIA.COM: Sumur tua yang telah ditutup oleh Pertamina kini kembali ‘dihidupkan’. Pembukaan sumur tua tersebut diyakini masih memiliki kandungan, sekaligus pasokan minyak yang bisa menambah pasokan minyak nasional.

Hal itu diungkapkan Wakil Kepala BP Migas, Hardiono. Menurutnya, jika Pertamina berhasil menghidupkan operasi sebagian sumur suspended maka produksi minyak nasional bisa bertambah 3.600 barel per hari (bph).

Hardiono mengatakan, Pertamina pernah menjanjikan akan mereaktivasi 5.244 sumur suspended milik perseroan. Saat ini, anak usaha Pertamina, yakni Pertamina EP tengah menginventarisasi seluruh sumur suspended yang bisa diaktifkan kembali.

“Jika 30 persen dari jumlah seluruh sumur tersebut bisa direaktivasi, maka akan memberi tambahan produksi 3.600 bph. Tambahan ini akan membantu mengejar 950.000 bph,” ungkap Hardiono melalui pesan elektroniknya di Jakarta, Jumat (19/9/2011).

Selain diminta menambah pasokan untuk produksi tahun depan, reaktivasi (pembukaan sumur tua) diyakini mampu menggenjot produksi minyak tahun ini. Pada semester ini Pertamina EP hanya sanggup mengaktifkan kembali 1.000 sumur suspended. Sisanya, akan dikerjakan tahun depan lantaran adanya workover dan permohonan dana ke Departemen Keuangan oleh Pertamina yang tak sedikit.

Realisasi produksi minyak Pertamina dari Januari hingga September ini baru berkisar pada 122.350 ribu bph. Angka ini lebih rendah 9.650 bph dari target yang dipatok pemerintah sebesar 132.000 bph. Sementara, untuk tahun depan pemerintah menargetkan perusahaan minyak dan gas bumi pelat merah itu menghasilkan minyak sebanyak 135.000 bph.

Hingga kini, Pertamina EP menduduki peringkat produsen minyak terbesar kedua setelah Chveron Pacific Indonesia. Padahal, kontribusi perseroan terhadap produksi minyak nasional baru baru mencapai 15 persen. Demi melihat lambatnya laju peningkatan kapasitas produksi minyak nasional, sangat disayangkan. Padahal, Pertamina menguasai 48 % dari seluruh wilayah kerja perminyakan di Indonesia.

“Ini artinya withdrawal rate Pertamina masih rendah,” ungkap Hardiono.

Dia mengungkapkan, sampai kini masih banyak wilayah kerja Pertamina yang belum digarap. Idealnya, jika pemegang production sharing contract (PSC) tidak menggarap wilayah kerja mereka, maka kontrak akan diputus dan wilayah kerja akan diambil negara. Hanya saja, Pertamina mendapat perlakuan khusus dengan hanya diminta untuk mengaktifkan kembali sumur mereka yang lama tidak digarap. AND/LI-10