LENSAINDONESIA.COM: Munculnya berbagai macam media, termasuk media online yang semakin marak di Surabaya, ternyata menurunkan minat baca penduduk Surabaya terhadap buku.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya bekerjasama dengan lembaga survei tahun 2010 ternyata cukup mengejutkan. Sebanyak 54% warga kota tercatat tidak sampai membaca tiga buah buku dalam sebulan. Itu artinya, dalam seminggu, mereka belum tentu membaca satu buku.

Faktanya, revolusi yang dilakukan media online/internet memang lebih mudah dilakukan. Dengan hanya menggunakan satu tangan saja, pengguna internet sudah bisa menemukan berbagai macam artikel ataupun berita tentang apa saja yang ada di sekeliling mereka bahkan dunia.

Tak bisa dipungkiri, saat ini adalah jamannya perkembangan teknologi. Kapan pun, kita bisa mencari apa saja. Bahkan, jika menginginkan pengetahuan dalam hitungan tahun atau bulan mundur, pengguna dapat dengan mudah mendapatkannya.

Selain itu, hasil survey juga ditemukan bahwa minat baca penduduk sekarang telah beralih ke televisi.

”Belum lagi perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat, seperti internet, semakin mengalihkan perhatian masyarakat akan pentingnya membaca,” ujar Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Arini Pakistyaningsih, Senin (19/9).

Untuk itu, berbagai upaya telah dilakukan pihak perpustakaan demi mendongkrak minat baca masyarakat. Diantaranya mendirikan perpustakaan sekolah sebanyak 1.420 unit, membangun taman bacaan di beberapa sudut taman kota, menyarankan penyediaan sudut baca di keramaian umum seperti di hotel dan mall.

“Saat ini sudah ada 392 lokasi taman bacaan yang didirikan di balai-balai RW dan dilengkapi dengan petugas perpustakaan,” tambah Arini.

Selain itu, konferensi perpustakaan yang digelar di kantor Perpustakaan Umum Kota Surabaya di Jl Rungkut Asri Tengah 5-7  sejak, Jumat lalu juga merupakan salah satu langkah Pemkot untuk mengintegrasikan seluruh elemen masyarakat guna meningkatkan budaya membaca.ali/LI-07