LENSAINDONESIA.COM: Rencana pembangunan transportasi massal berupa monorel koridor Timur-Barat dan Tram untuk koridor Utara-Selatan di kota Surabaya, sepenuhnya akan dibiayai oleh investor. Dengan kata lain, pemkot Surabaya karena tidak akan mengeluarkan biaya sesen pun. Kini prosesnya terus dimatangkan agar pelaksanannya segera bisa terealisasi.

Ini tentu kebalikan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang Senin kemarin memutuskan tidak akan melanjutkan pembangunan monorel yang  terhenti sejak 2004. Baca Pembangunan Monorel DKI Jakarta Dihentikan

Kepada wartawan, Risma, Walikota Surabaya sesaat setelah selesai mengikuti rapat paripurna mengatakan bahwa dalam pembangunan Monorel dan Tram sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.

“Insya Allah begitu (pemkot tidak keluarkan biaya pembangunan),” kata Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Selasa (20/9).

Nantinya, pemkot hanya mengeluarkan biaya untuk vider serta park and ride. Sampai saat ini sudah banyak pengelola pusat perbelanjaan yang meminta tempat pemberhentian di depan tempat usahanya masing-masing.

Harapannya, agar konsumen yang ingin menuju pusat perbelanjaan semakin mudah.

Di sisi lain, pemkot akan tetap memperhatikan tempat pemberhentian di lokasi lain. “Tidak ada mall kita harus melayani, kalau tidak begitu nanti terlalu jauh,” paparnya.

Berdasarkan data yang dihimpun LIcom, untuk jalur monorel sepanjang 24,47 km akan terdapat 16 halte. Kemudian untuk jalur tram yang panjangnya 9,38 km akan terdapat 10 halte. Dimana jarak minimum antar halte sekitar 500 meter.

Selain halte, di masing-masing jalur monorel juga terdapat terminal. Untuk jalur monorel ada empat terminal, yakni, di Sentra Bulak, PTC, Pasar Keputran dan Joyoboyo. Sedangkan jalur tram juga terdapat 4 terminal yang terletak di Joyoboyo, JMP, Pasar Tunjungan dan Gapura Surya.

Soal investor, Risma mengaku pihaknya sekarang lebih optimis bisa mendapatkan yang terbaik. Pemkot Surabaya sudah pengalaman dalam kerjasama investasi, yakni, kerjasama investasi pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo Surabaya. “Kenapa saya optimis, lelang investasi tidak terlalu sulit untuk Surabaya,” terangnya.

Bahkan, sebelumnya sudah banyak tawaran yang masuk ke Pemkot Surabaya untuk pengembangan program tansportasi massal. Seperti pengembangan Bus Rapid Transit (BRT).

Hanya saja ketika itu pemkot belum bisa menerima tawaran yang masuk. Alasannya, semata-mata untuk menentukan pilihan yang terbaik transportasi massal di Surabaya, dan akhirnya pilihannya pada monorel dan tram.

Pilihan pengembangan transportasi massal berupa monorel dan tram juga sudah disosialisasikan ke kalangan DPRD Surabaya. Diharapkan, antara Pemkot Surabaya dan DPRD Surabaya mempunyai pandangan yang sama atas rencana pengembangan monorel dan tram.

“Saya cuma sosialisasi agar menangkapnya sama. Kenapa tidak gunakan BRT dalam kota, itu-itu saja,” cetusnya.

Apa tidak khawatir pembangunannya macet seperti di Jakarta? Menurut Risma, macetnya pembangunan monorel di Jakarta lebih disebabkan karena faktor non teknis. “Saya sebetulnya tahu, tapi tidak etis menyampaikannya,” ujarnya.

Sementara itu, rencana pengembangan transportasi massal berupa monorel dan tram mulai mendapatkan tanggapan positif dari DPRD Surabaya.

Salah satu alasannya, kapasitas jalan di Surabaya sudah tidak sebanding lagi dengan jumlah kendaraan. Belum lagi prosesntasi kendaraan pribadi lebih besar dari angkutan umum.

“Penggunaan transportasi massal memang  sangat cocok untuk mengurangi kemacetan. Ini terjadi karena banyaknya jumlah mobil pribadi di jalanan,” kata Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Sachiroel Alim Anwar.

Dukungan juga disampaikan Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono. Menurutnya, dengan dibangunannya transportasi massal bukan berarti Namun bukan perarti Pemkot  menolak pemberian bus dari pemerintah pusat.

Dengan  memperbaiki kondisi bus agar lebih nyaman lagi, maka masyarakat akan tertarik menggunakan bus.

“Kalau mau lihat di Hongkong jalurnya hanya separonya Surabaya. Satu jalan di sana kurang lebih 10 meter, tapi tidak macet meski memakai angkutan bus,” pungkasnya.ali/LI-07