LENSAINDONESIA.COM: Disparitas harga beras antar wilayah di Indonesia pada September 2011 yang diukur dengan koefisien keragaman (KK) harga antar wilayah, adalah sebesar 15,3%, atau rata-rata perbedaan harga beras antar wilayah adalah sebesar 15,3%.

Hal ini menunjukkan bahwa secara nasional disparitas harga beras antar wilayah relatif tinggi. 

Perum Bulog divre V Jatim  yang kini sedang mengalami masa paceklik atau penurunan stok beras . Karena itu pihaknya terus mengoptimalisasi dengan cara mendatangkan beras impor dari Vietnam sebesar 220 ribu ton, yang sejak Desember melakukan transit melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Hal itu dibenarkan Yuli, pihak Humas Perum Bulog V Jatim ini mengatakan, “Secara kualitas kami masih menggunakan penggunaan standarisasi peraturan pemerintah yang tertuang dalam Inpres no.8 tahun 2008 bahwa pagu penggunaan beras  harus memenuhi persyaratan mulai dari kadar air 14%, derajat sosoh 95%, menir 3%, butir patah 20% dan untuk gabah berlaku kadar hampa dan kadar air hanya 3 %,” paparnya saat ditemui LIcom di kantor Bulog, Rabu (21/09/2011).

Yuli melanjutkan, untuk penyediaan dan penyaluran cadangan beras, pemerintah hanya untuk  menjaga stabilitas harga beras, menanggulangi keadaan darurat, bencana, dan rawan pangan.

“Keberadaan beras impor sendiri tidak kami edarkan di wilayah Jatim, yang artinya Bulog masih menerima distribusi panen dari hasil petani langsung melalui sub divre yang kami bagi di 13 sub divre. Diantaranya Surabaya Utara dan selatan, Bojonegoro, Kediri, Tulungagung, Malang, Ponorogo, Probolinggo, Madiun, Jember, Banyuwangi, Madura, dan Bondowoso,” sambungnya.

Sementara di internal  kepengurusan Bulog drive V Jatim, saat ini masih sedang dalam pergantian masa purna jabatan, dari Murino yang digantikan Rito Angki Pratomo dari Ka.Divre Regional Sulawesi tengah yang dalam waktu dekat akan mengadakan serah terima jabatan lama ke jabatan yang baru.jey/LI-07