LENSAINDONESIA.COM: Batik dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi dan merupakan komoditas andalan Indonesia yang semakin prospektif dalam ‘Cetak biru Pelestarian dan Pengembangan Batik Nasional’ yang diserahkan kepada Presiden SBY dalam pembukaan World Batik Summit 2011. Baca berita terkait

“Berdasarkan data tahun 2010, jumlah tenaga kerja di Industri batik mencapai 916.783 orang dengan nilai produksi mencapai Rp 3,9 triliun. Dan permintaan batik antara tahun 2006-2010 juga mengalami peningkatan sebesar 56 persen,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam Jumpa Pers di Kemendag, Jakarta, Rabu (28/9).

Menurut Mari, Batik telah berkontribusi menggerakkan ekonomi nasional dengan nilai ekspor sebesar US$ 69 juta dengan negara-negara yang menjadi tujuan ekspor antara lain, Amerika, Belgia, Jepang dan menyusul negara-negara Amerika latin.

Saat ini konsumen batik di dalam negeri telah mencapai lebih dari 72,86 juta orang.

Meski batik telah mendapatkan pengakuan UNESCO tahun 2009 lalu sebagai ‘intangible Cultural Heritage'(kekayaan tak benda), namun Mendag memastikan bahwa batik harus menjadi suatu ‘living tradition'(budaya yang hidup).

“Dengan adanya cetak biru ini diharapkan ada landasan dalam menyusun kebijakan pelestarian dan pengembangan batik nasional dalam jangka pendek, menengah, dan panjang dengan arahan, sasaran dan target kinerja yang jelas mengenai pembangunan ekonomi kreatif berbasis kerakyatan,” papar Mari.day/LI-07