LENSAINDONESIA.COM: Bank besar Jerman dan Eropa, Deutsche Bank mengancungi jempol pada dunia perbankan di Indonesia. Pasalnya, bank-bank di Indonesia termasuk yang paling kuat di tengah tingginya tekanan keuangan akibat guncangan keuangan global saat ini.

Dalam riset Deutsche Bank bertajuk “Global Banks–Credit Quality in a Deleveraging World” dinyatakan bahwa perbankan di Indonesia ‘tahan banting’ alias lebih bertahan lama terhadap lonjakan tajam kredit macet dan penurunan laba dibanding perbankan di Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

“Bank-bank di Indonesia memiliki ketahanan dan kesiapan yang baik untuk menghadapi risiko resesi dan goncangan hebat pada sistem perbankan internasional. Dengan level kredit yang relatif rendah pada perekonomian Indonesia dan tingginya tingkat kapitalisasi bank,” demikian laporan riset Deutsche Bank yang diterima LIcom, Rabu (5/10).

Dengan level kredit yang relatif rendah pada perekonomian Indonesia dan tingginya tingkat kapitalisasi bank, Deutsche berharap Indonesia dapat memperoleh manfaat dari akses kredit yang baik dalam beberapa tahun ke depan.

Riset ini juga mengukur risiko sistem perbankan sejumlah negara berdasarkan beberapa kriteria, termasuk risiko makro ekonomi, risiko sistemik, ketahanan bank terhadap lonjakan tajam provisi kredit macet dan laba praprovisi (pre-provision profits) yang tertekan (lihat bagan 6 di halaman berikutnya). Masing-masing dari sembilan faktor risiko kunci dinilai dengan skala antara 1 sampai 5, dimana 5 berarti paling berisiko.

Berdasarkan skor ‘peta bahaya’ ini, Indonesia memperoleh skor 19 dari 45, yang menjadikan sistem perbankan Indonesia termasuk peringkat teratas di antara negara berkembang, di belakang Meksiko (17) dan Thailand (16).

Sebaliknya, negara-negara maju di dunia menduduki peringkat bawah, seperti Perancis memperoleh nilai 24, sementara Inggris memperoleh nilai 23 dan Amerika Serikat memperoleh nilai 22.

 

Yunani dan Portugal memperoleh nilai 33, sedangkan Spanyol dan Irlandia masing-masing meraih skor 32. Jerman, Jepang, Australia, Swedia, dan Israelmenduduki peringkat lima teraman untuk sistem perbankan negara maju berdasarkan kriteria tersebut.

“Kebijakan fiskal pemerintah yang disiplin memungkinkan level kredit Indonesia ada di bawah 30 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan memastikan terjaganya kapasitas bank untuk tetap memberikan pinjaman dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” tulis laporan tersebut.

Studi ini juga mencatat bahwa sistem perbankan Indonesia berada dalam posisi kuat untuk menghadapi gejolak kredit dengan rata-rata rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sebesar 100 persen dan bisa mencapai 321 persen pada beberapa kasus.

Persentase NPL yang diproyeksikan dari semua pinjaman di Indonesia pada 2011 adalah 1,5 persen, jauh lebih baik dibandingkan Yunani (13,5 persen), Irlandia (11,4 persen), Brasil (9 persen), dan rata-rata negara berkembang (2,4 persen).

Secara keseluruhan, studi ini menemukan bahwa bank-bank di negara berkembang memperoleh nilai yang sedikit lebih baik pada ‘peta bahaya’ daripada negara maju, dengan risiko paling rendah dimiliki oleh Meksiko, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Korea.

Namun, kredit tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang diprediksi terus meningkat dalam waktu yang akan datang, inflasi harga aset, dan intervensi pemerintah dalam praktik kredit telah menempatkan Brasil, India, Rusia, dan China di posisi terendah dalam peta bahaya negara berkembang.rudi/LI-07