LENSAINDONESIA.COM: Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu, sudah masuk ke kabinet sejak periode pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun banyak kebijakan Mari yang tidak pro-rakyat, antara lain membuka pintu impor komoditas yang sebenarnya bisa dipenuhi dalam negeri, misalnya impor garam dan rotan.

Max Sopacua, anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, di Gedung DPR RI, Senin (10/10) mengatakan, “Kalau sekarang Mendag RI disebut tidak pro rakyat, misalnya lebih banyak impor produk dari RRC, saya pikir itu akan berdampak pada evaluasi yang dilakukan Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), yang mengambil kebijakan oleh semua menteri,” katanya.

Apakah kebijakan ini pro rakyat atau tidak, sebab semua kebijakan yang diambil justru meliputi masuknya produk-produk dari RRC. baca juga Indonesia dibanjiri produk China

“Hal ini tidak akan menguntungkan karena banyak produk-produk dari luar. Saya kira UKP4 akan bekerja sangat fair,” jelas Max.

Menurut Max, adanya kebijakan Mari, tentu menjadi hak presiden untuk melakukan evaluasi. Menurut saya, kita justru merugi, karena pasar dikuasai oleh luar negeri, padahal banyak produk  dalam negeri yang sama sejenis dengan produk luar,” kata Max.

Masih kata Max, selama ini kinerja Mentri Perdagangan tidak ada masalah, hanya saja rakyat Indonesia sebagai konsumen akan terbelengkalai.

Karena itu Max mengusulkan sebuah solusi, misalnya buat saja pabriknya di Indonesia. “Jangan seperti sekarang pabrik dibuat di luar negeri dengan memakai tenaga dari luar, tapi akhirnya dijual di Indonesia, padahal banyak produk yang sama di Indonesia,” lanjutnya.

Sementara itu, massa dari Masyarakat Rotan Indonesia (Mari) hari ini melakukan aksi demo di kantor Menteri Perdagangan. Bahkan massa yang mencapai ratusan orang itu berencana akan melakukan aksi serupa di Istana Negara.

“Aksi kita di kantor kementerian perdagangan sudah kelar, setelah ini mau ke istana,” kata Koordinator Masyarakat Rotan Indonesia Badrudin Hambali , Senin (10/10/2011)

Badrudin mengaku jumlah massa yang bergabung dalam aksi ini mencapai 500 orang. Jumlah relatif sedikit dari target mereka yang mencapai 1.000 orang. “Tuntutan kita cuma satu supaya distop ekspor rotan,” katanya. dody/LI-07