LENSAINDONESIA.COM: Melanjutkan penyidikan dugaan korupsi  Perusahaan Daerah Pasar Surya (PDPS) Surabaya, Pidana khusus (pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya memeriksa 4 saksi, Kamis (13/10/2011) petang.

Empat saksi yang diperiksa diantaranya, Arif Surbakti selaku Kasubag Akuntasi PDPS, Hartini selaku Kasub Pemegang Kas, Sudarto selaku Kasubag PU Bendahara, dan H. Harijanto mantan Kabag Bendahara.

Menurut Kasipidsus Nurcahyo Jungkung Madyo, keempat saksi tersebut diperiksa terkait dana hibah proyek Pasar Gayungsari dan over draft dana representasi direksi anggaran 2010.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan Kejari Surabaya, dana hibah pasar telah cair Rp 2 miliar. Namun cairnya dana hiba tersebut tidak dicatat dalam keuangan PDPS.

Begitu pula di rekening resmi PDPS, lanjut Nurcahyo, ada dana hibah sebesar Rp 2 miliar yang tidak tercatat.

“Menurut keterangan staf bagian bendahara, namanya kalau tidak salah Rudy, tidak ada dana hibah yang masuk ke rekening,” jelasnya.

Seharusnya, pencairan dana hibah masuk melalui rekening PDPS, sebagaimana anggaran-anggaran lainnya. Selain itu, dana hibah tersebut seharusnya dilaporkan ke direktur utama (Dirut).

Dari keterangan yang diterima, Nurcahyo kemudian sanksi atas keterangan Sucipto yang mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui soal pencarian dana hibah yang dipersoalkan itu.

“Tidak mungkin dirut tidak mengetahui itu. Sebab, setelah dari Dirkeu laporan harus diteruskan ke dirut,” terang Nurcahyo.

Terkait temuan kejanggalan over draft dana representasi direksi, dia mengatakan bahwa hal itu sebenarnya berawal dari dana dari Pemkot sebesar Rp 250 juta tahun anggaran 2010, untuk sejumlah kegiatan di PDPS. “Ternyata ada satu kegiatan yang dananya kurang,” tambahnya.

Kekurangan dana kegiatan tersebut lantas diambilkan dari dana kantor (PDPS). Kesalahan semakin menguat, sebab dari dana yang diambil dari PDPS untuk menalangi kekurangan dana tersebut laporan pertangungjawabannya tidak jelas.

Sementara untuk kedua kalinya Direktur Keuangan (Dirkeu) Perusahaan Daerah Pasar Surya (PDPS) Soesantyo tidak memenuhi panggilan penyidik. Alasan ketidakhadirannya bukan karena sakit. Tapi, bisa jadi, belum siap dimintai keterangan.

Dia mengutus pengacaranya untuk mengonfirmasi ketidakhadiran dirinya ke Kejari Surabaya. “Dia (Soesantyo) tidak sakit. Melalui pengacaranya tadi dia meminta penundaan Senin (18/10),” kata Nurcahyo.

Soesantyo mestinya akan dikonfrontir dengan direktur Utama (Dirut) PDPS sucipto. Namun, untuk kedua kalinya, itu tidak terlaksana karena kedua-duanya tidak hadir. Sama dengan Soesantyo, Sucipto juga mengutus kuasa hukumnya ke kejaksaan. Nurcahyo tak menyebut alasan apa Sucipto tak hadir.

Seperti diberitakan sebelum-sebelumnya, PD Pasar Surya diguncang kabar korupsi terkait rencana proyek Pasar Gayungsari. Diduga, dana prainvestasi sebesar Rp 2 miliar ditilep dan masuk ke rekening pribadi Dirkeu Soesantyo.

Kejaksaan sendiri kini telah menetapkan Soesantyo dan Dirut PDPS Sucipto sebagai tersangka. Diperkirakan, kerugian negara akibat korupsi tersebut sebesar Rp 2,5 miliar.bam/LI-07