LENSAINDONESIA.COM: Demo anti SBY-Boediono yang berlangsung kemarin, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan SBY-Boediono, berlangsung sangat massif. Mahasiswa, pemuda dan kelompok lainnya tumpah ruah di 16 kota di seluruh Indonesia. Tuntutannya cuma satu, SBY-Boediono lengser.

Di Jakarta sendiri, demonstrasi berpusat di depan Istana Negara. Beberapa kali demonstran bergesekan dengan aparat keamanan dan berakhir rusuh.

Bagi Direktur Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, ini merupakan betuk deligitimasi pemerintahan saat ini di mata rakyat.

Namun, kalau diteliti betul, sebenarnya delegitimasi sudah terprediksi sejak berbagai lembaga-lembaga survei mengeluarkan hasil risetnya.

“Ketidakpercayaan rakyat juga tercermin dalam survei-survei yang dilakukan berbagai lembaga survei seperti LSI, Litbang Kompas dan Indobarometer. Apalagi beberapa riset mengatakan kepercayaan publik kepada SBY-Boediono berada di bawah 40 persen,” kata Syahganda, Jumat (21/10).

Memang SBY mencoba menjawab ketidakpercayaan rakyat dengan upaya reshuffle kabinet. Namun, imbuh Syahganda, hal itu tidak efektif.

“Reshuffle tidak bisa memuaskan rakyat karena berorientasi kekuasaan. Bagaimana mungkin menteri perdagangan lama (Mari Elka Pangestu) yang neolib diganti dengan menteri baru (Gita Wirjawan) yang neolib juga. Bagaimana mungkin menteri perdagangan lama (Mari Elka Pangestu) yang neolib malah diberi jabatan baru Menteri Pariwisata,” lanjut Syahganda.

JIka tidak segera memperbaiki diri, SBY-Boediono nampaknya harus bersiap-siap untuk lengser. Karena pembangkangan sipil akan terus muncul dan akan meminta keduanya mundur karena gagal mengemban amanat rakyat.

“Aksi-aksi seperti yang terjadi kemarin akan terus bermunculan. Eskalasi akan besar. Anak-anak (demonstran) seperti siap mati,” katanya lagi.

Masih katanya, pembangkangan sipil ini adalah fenomena baru di jaman SBY-Boediono yang sebelumnya tidak pernah terjadi. “Ini manifestasi ketidakpercayaan rakyat kepada SBY,” lanjutnya.

Lalu apakah fenomena ini akan efektif untuk menjungkalkan SBY?

“Bisa jadi. Ini kayak puncak gunung es. Apalagi, sebelumnya, berbagai tokoh agama long march dari kantor PGI ke Tugu Proklamasi untuk menyampaikan keprihatinannya. Kalau semua rakyat sudah begitu, lalu dilanjutkan mahasiswa, maka SBY akan segera kehilangan legitimasi,” demikian Syahganda.ari/LI-07