Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
EKONOMI & BISNIS

BCA Syariah Kembangkan Pasar Melalui Akad Wadi'ah 

LENSAINDONESIA.COM: Sebagai unit korporasi perbankan yang tetap melakukan eksistensi pengembangan investasi bisnis layanan terpadu, BCA syariah kini tampil memenuhi prasayrat yang menjadi bagian kebijakan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) sebagai penambahan kuota baru Islamic Bank.

Eryana Setyarti, selaku kepala unit layanan syariah (ULS) BCA syariah, mengkisahkan, awal mula keberadaan BCA syariah ini, masih bernama bank UIB (Utama Internasional Bank), mengingat pertumbuhan ekonomi syariah semakin cepat dan berkembang pesat. Maka, berdasarkan akta Akuisisi No. 72 tanggal 12 Juni 2009 yang dibuat dihadapan Notaris Dr. Irawan Soerodjo, S.H., Msi, .PT.Bank Central Asia, Tbk (BCA) mengakuisisi PT Bank Utama Internasional Bank (Bank UIB) menjadi PT. Bank BCA Syariah.

“Terbukti dalam satu tahun terakhir, BCA syariah telah mampu menarik kepercayaan konsumen, dengan mencapai omzet 3 milyar dari 400 nasabah yang tergabung, ini juga sekaligus membuktikan komitmen layanan syariah menyerap permintaan pasar sangat positif dikalangan masyarakat, ” ujarnya saat ditemui LIcom, Jum’at, (29/10/2011) di kantornya KCU BCA, Darmo, Surabaya.

Eryana Setyarti menegaskan, berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan di Luar Rapat Perseroan Terbatas PT Bank UIB No. 49 yang dibuat di hadapan Notaris Pudji Rezeki Irawati, S.H., tanggal 16 Desember 2009, tentang perubahan kegiatan usaha dan perubahan nama dari PT Bank UIB menjadi PT Bank BCA Syariah.

Tak hanya itu, sambung Eryana Setyarti, Akta perubahan tersebut juga telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. AHU-01929. AH.01.02 tanggal 14 Januari 2010.

Pada tanggal yang sama telah dilakukan penjualan 1 lembar saham ke BCA Finance, sehingga kepemilikan saham sebesar 99,9997% dimiliki oleh PT Bank Central Asia Tbk, dan 0,00003% dimiliki oleh PT BCA Finance.

Baca Juga:  Perintahkan Dirut Pertamina dan Ahok secepatnya bangun kilang minyak, Jokowi: 32 tahun enggak bisa, kebangetan!

Perubahan kegiatan usaha Bank dari bank konvensional menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui Keputusan Gubernur BI No. 12/13/KEP.GBI/DpG/2010 tanggal 2 Maret 2010. Dengan memperoleh izin tersebut, pada tanggal 5 April 2010, BCA Syariah resmi beroperasi sebagai bank umum syariah.

Secara akuisitas sendiri BMPD membagi dua jenis bank yang saling terintegrasikan, yakni Bank Umum Sayariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS), dalam hal ini Eryana Setyarti juga menyampaikan, bahwa yang membedakan antara Bank konvensional dan Bank Umum Syariah, hanyalah pada akad yang dipakai pertama kali, yakni akad wadi’ah (titipan) yang sewaktu-waktu nasabah bisa mengambilnya kapanpun.

Saat ini, lanjutnya, ULS BCA syariah berkembang dan tersebar di 7 Kantor baru surabaya dan Sidoarjo, yang kini sudah mengalami peningkatan 50 sampai dengan 100% dari nasabah sebelumnya, dikarenakan sebagian masyarakat memang menanti keberadaannya.

“Di BCA Syariah lebih barokah cara melakukan investasinya, karna menerapkan aturan sistem bagi hasil dari keuntungan bersih bank, yakni 40 untuk nasabah dan 60 untuk bank, dimana keuntungan bersih akan dibagi dari total dana simpanan nasabah kemudian dikalikan 10 % pendapatan bersih bank,” ulas Eryana Setyarti.

Menurutnya, hal ini diharapkan untuk mengantisipasi terjadinya kredit macet bank dari saldo paling  kecil sampai dengan besar. Oleh sebab itu, transparansi keuangan selalu diberikan secara langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara nasabah dengan bank.

Dan, sebagai apresiasi kepada pelanggan, pada tahun 2012 mendatang, BCA Syariah akan memperluas jaringan dengan membuka antara 11-15 kantor ULS BCA Syariah baru, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Madura.jey/LI-07