LENSAINDONESIA.COM: Tersangka dugaan korupsi Direktur Keuangan (Dirkeu) Perusahaan Daerah Pasar Surya (PDPS) Surabaya, Soesantyo, mangkir untuk yang kedua kalinya dari panggilan penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Rabu (2/10/2011).

Panggilan yang ditujukan terhadap tersangka, dimaksudkan guna mempercepat proses penyidikan pihak Kejari Surabaya. Salah satu dari tersangka meminta ijin absen atas panggilan tersebut dengan menggunakan faximile. Hal tersebut disampaikan oleh kuasa hukum tersangka kasus dugaan korupsi pra investasi Pasar Gayungsari, Surabaya.

Menurut Kajari Surabaya, Mukri, tersangka bernama Soesantyo tidak hadir dengan cara menyampaikan ijin melalui faximile. Alasannya, mengikuti kegiatan dinas yang tak bisa diwakilkan.

Lanjut Kajari, Soesantyo meminta penundaan pemeriksaan hingga 10 November pekan depan. Dia menjelaskan, dua kali tidak hadir adalah batas toleransi yang diberikan kejaksaan kepada tersangka Soesantyo. “Apabila pekan depan tersangka masih mangkir pihak kejaksaan akan ambil tindakan tegas,” jelas Mukri.

Lain halnya dengan tersangka Ir Sucipto, dirinya mematuhi panggilan penyidik. Bahkan tersangka diperiksa sejak pagi hingga pukul 17.15 WIB pada Selasa (1/11/2011).

Yunus Susanto, kuasa hukum tersangka mengatakan, kliennya diminta untuk menjawab pertanyaan penyidik dengan 35 pertanyaan. Tidak ada keterangan signifikan yang dikorek oleh penyidik, kecuali terkait kewenangan dan tupoksi Sucipto selaku Dirut PD Pasar. “Ini baru pemeriksaan awal. Pekan depan baru inti-intinya,” tandasnya.

Lanjut Yunus, kliennya juga diarahkan untuk mengembalikan kerugian negara. Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Surabaya Nurcahyo Jungkung Madyo mengatakan hal yang sama dengan Yunus.

Terkait dokumen yang ditunjukkan oleh tersangka Sucipto pada penyidik, dia juag mengakui. “Cuma dokumen yang ditunjukkan tidak ada hubungannya dengan transaksi hibah,” jelasnya.

“Soal mengembalikan atau tidak itu hak tersangka,” tukasnya.

Diketahui, Soesantyo dan Sucipto resmi ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan korupsi pra investasi Pasar Gayungsari senilai Rp 2,5 miliar. Dalam kasus tersebut, diduga dana hibah mengalir melalui rekening pribadi Dirkeu Soesantyo. BAM/LI-10