LENSAINDONESIA.COM: Bank Indonesia (BI) akan menurunkan kebijakan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) lagi pada hari Kamis (9/11/2011).

Penurunan ini karena rendahnya inflasi yang memberikan kelonggaran moneter lebih lanjut. Besaran Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 4,4% pada Oktober (level terendah dalam 17 bulan terakhir). Sementara inflasi inti juga diredam pada tingkat 4,4%.

Pada dasarnya, harga tetap stabil pada basis yang disesuaikan secara musiman dari Agustus sampai Oktober.

Bahkan setelah memperhitungkan adanya kenaikan harga yang lebih tinggi pada musim liburan, inflasi diperkirakan bertahan di tingkat 4% sampai akhir tahun ini.

Inflasi non-inti diperkirakan akan menurun mencapai 3,8% pada kuartal pertama 2012 sebelum naik ke 6% pada kuartal terakhir 2012 di tengah kuatnya permintaan domestik.

Harga bahan pangan dan kemungkinan (meskipun menurut kami tidak akan terjadi) kenaikan harga bahan bakar bersubsidi dapat meningkatkan risiko inflasi.

Sebelumnya BI telah melakukan langkah proaktif dengan menurunkan kebijakan suku bunga acuan sebesar 25 bps dan menurunkan dasar tingkat suku bunga antar bank sebesar 50 bps pada dua rapat kebijakan terakhir.

Kondisi itu nampaknya tidak akan berubah karena ketidakpastian faktor eksternal. Dengan kebijakan suku bunga riil yang masih positif (2,1%), kami masih yakin bahwa ada ruang untuk pemotongan lebih lanjut jika diperlukan.

BI diperkirakan akan menurunkan kebijakan suku bunganya sebesar 25 bps lagi pada hari Kamis dan angka tersebut akan tetap berada di level 6,25% sampai Desember.

Penanganan ketidakstabilan pasar Indonesia pada bulan September tersebut menunjukkan bahwa arus dana keluar lebih lanjut dapat diatasi.

Yang pasti, Indonesia masih memiliki cadangan devisa US$114 miliar dan BI masih memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan intervensi jika diperlukan. Dengan tidak adanya tanda-tanda langsung tekanan harga, kebijakan moneter akan bertahan di level 6,25%.rudi/LI-07