LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Soekarwo tetap bersikukuh untuk menolak beras impor, meski Bulog Jatim menyebut ketersediaan beras Jatim semakin mengkhawatirkan.

“Kalau cuma turun di Jatim boleh-boleh saja, tapi nggak boleh masuk (pasar Jatim),” kata Soekarwo usai  bedah buku karya Yud Latif berjudul Negara Paripurna dengan narasumber di aula DPD PDI Perjuangan Jatim, Jl Kendangsari Industri 57, Surabaya, Rabu (9/11) sore tadi.

Menurut Soakerwo, saat ini Jatim tidak sedang membutuhkan beras impor sebab sedang dalam panen raya. Dari pada mengimpor beras dari luar untuk mencukupi cadangan beras, lanjurnya, lebih baik Bulog membeli gabah atau beras langsung dari petani-petani di Jatim yang telah panen.

“Apapun alasanya, impor beras itu merugikan petani. Jadi mengapa harus impor,”tegas Gubernur yang populer dengan nama panggilan Pakde Karwo itu.

Penolakan Soekarwo terhadap usulan impor beras tersebut menyusul peryataan Kepala Bulog Divisi Regional Jatim, Rito Angky Pratomo yang menyatakan bahwa persedian beras untuk Jatim sudah menipis.

Pernyataan Rito Angky Pratomo yang dikemukakan kepada wartawan, Selasa (8/11) kemarin tersebut menyebutkan bahwa ketersediaan beras dalam negeri, termasuk untuk beras miskin, saat ini masih 21.918 ton, sedangkan kebutuhan beras miskin yang belum terpenuhi sampai sekarang mencapai 24.245 ton.

Rinciannya, kebutuhan beras miskin untuk masyarakat Jatim pada bulan November sebanyak 20.026 ton dan pada bulan Oktober 2011 sebesar 4.131 ton, serta kebutuhan beras miskin 88 ton yang belum dipenuhi di Bulog Subdivre Probolinggo tepatnya di Kabupaten Lumajang pada bulan September lalu.

Sementara, ketersediaan beras dalam negeri yang ada saat ini sebanyak 21.918 ton bisa habis dalam waktu setengah bulan ini,” ujarnya.

Untuk kekurangan ketersediaan beras, terutama memenuhi beras miskin, ia mengaku, Bulog masih menunggu izin Gubernur Jatim mengeluarkan beras impor asal Vietnam yang sudah tersedia sebanyak 190.384 ton.

“Kami tidak serta merta mengandalkan beras impor sebagai solusi kekurangan ketersediaan beras miskin. Namun, hal ini karena stok beras di Jatim sudah sulit didapatkan menyusul terjadinya anomali cuaca,” ujarnya.

Kalaupun ketersediaan beras di Jatim ada, katanya, jumlah yang didapatkannya juga tidak memadai dan lokasinya berada di luar Malang dan Surabaya . Kebutuhan beras miskin untuk masyarakat Jatim rata-rata 46.197 ton per bulan.rid/LI-07