Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
EKONOMI & BISNIS

Pentingnya Peran SRG bagi Komoditi Berjangka Seperti Petani 

LENSAINDONESIA.COM: Selama tahun 2011 implementasi SRG (Sistem Resi Gudang) terus mengalami peningkatan. Hal tersebut ditunjukkan dengan penerbitan Resi Gudang yang mencapai 84 resi Gudang untuk komoditi gabah di 5 kabupaten di Jawa Timur, antara lain, Tuban, Lamongan, Blitar, Probolinggo, dan Situbondo (sedang dalam proses pembangunan), serta Banyuwangi dan Tulungagung.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Jawa Timur, Arifin T Hariadi, mengatakan, pembiayaan dilaksanakan oleh perbankan maupun lembaga keuangan Non-Bank, diantaranya, BRI, Bank BJB, Bank Jatim, Bank Kalsel, PKBL KBI, dan LPDB KUKM, baik melalui Skema-Subsidi Resi Gudang (S-SRG ) maupun non-subidi.

Saat ini, Pemanfaatan Resi Gudang untuk agunan serta pembiayaan sebanyak 36 Resi Gudang dengan nilai mencapai 4,2 milyar, masih melalui persetujuan Bappebti terlebih dahulu, selaku Badan pengawas perdagangan berjangka komoditi, misalnya melalui volume/ masing-masing kelompok tani, yang terdiri 15-25 orang mencapai 21.2999,94 ton dan total senilai Rp 8,7 milyar, dengan kinerja kwantitatifnya mencapai 19.068.720 atau sekitar 42% dari jumlah yang diajukan.

Dikarenakan, “Bappepti masih mempunyai kewenangan dan otoritas kebijakan menentukan mulai dari menerbitkan izin usaha bagi Bursa berjangka sampai dengan membentuk sarana penyelesaian masalah yang berkaitan dengan kegiatan perdagangan berjangka. “terang  Arifin kepada Licom Rabu, 23/11/2011

Menurutnya, ada beberapa faktor yang mendukung peningkatan transaksi Resi Gudang, yakni semakin meluasnya daerah yang memanfaatkan SRG, terutama padagudang SRG yang dibangunmelalui dana stimulus fiskal Kemendag T.A. 2009, mulai diterapkannnya Subsidi Resi Gudang,serta meningkatnya pemahaman petani, kelompok tani, (Poktan), Koperasi/UKM, dan pelaku usaha lainnya.

Sedangkan master plan pada tahun 2011 hingga 2014, sambung Arifin T. Hariadi, dalam rangka mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasionaldan sesuai dengan inpres nomor 1 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan  nasional, Bappepti telah menyusunnya.

Arifin T. Hariadi juga menjelaskan, Sebagai dasar rencana pembangunan gudang pangan yang mencakup data pergudangan SRG dan pergudangan milik BUMN (Pertani, Bulog, Sang Hyang Sri) serta data produksi dan konsumsi komoditi pangan yang meliputi padi, jagung, kedelai, dan tebu.

“Diharapkan dapat menjadi refrensi dalam pengembangan sistem logistik nasional.”cetusnya

Dan beberapa tujuan master plan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Melakukan kajian dan pemetaan pangan ( beras, gabah, jagung, kedelai , gula, dan pangan lokal) serta pergudangan nasioanl (pemerintah, koperasi, swasta, dan SRG) untuk saat ini.

2. Menyusun perencanaan Gudang Pangan dan sistem pengelolaan gudang yang menjamin terciptanya efisiensi dan efektifitas.

3. Menyusun grand strategi (strategi dan prioritas) yang akan dilakukan dalam rangka pembangunan dan pengembangan gudang pangan.

4. Menyusun radmap pembangunan dan pengembangan gudang pangan untuk jangka waktu 5 tahun

Dengan demikian, untuk mencapai percepatan tersebut Bappepti juga telah membentuk institusi pengelola gudang, diantaranya, PT Pertani, PT Succofindo (Persero), PT Bandha Ghara Reksa, PT Petindo Daya Mandiri, perum BULOG, PT BRI (Persero) dan PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero).

“Kelompok kerja ini secara rutin melakukan pertemuan, guna mensinergikan kebijakan dari masingmasing lembaga tersebut dalam mendukung peyelenggaraan SRG di Indonesia. ” pungkasnya.jey/LI-07