LENSAINDONESIA.COM: PROPER adalah salah satu program unggulan Kementerian Lingkungan Hidup yang dikembangkan sejak tahun 2002 dengan tujuan untuk mendorong tingkat penaatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pendekatan yang dilakukan oleh PROPER adalah dengan melalui pembinaan kepada perusahaan.

Jumlah peserta PROPER 2010 – 2011 adalah 1002 perusahaan meliputi sektor manufaktur, pertambangan, energi dan migas, agroindustri serta sektor kawasan dan jasa.

Tingkat penaatan total PROPER 2010 – 2011 adalah 66% atau menurun 5% dari penaatan periode tahun sebelumnya. Penurunan tingkat ketaatan ini disebabkan penambahan peserta yang cukup besar, yaitu 45%.

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof.Dr.Balthasar Kambuaya,MBA, menegaskan, “PROPER mendorong perusahaan untuk melakukan upaya-upaya sukarela dalam menginternalisasi isu lingkungan dengan membuat kriteria-kriteria yang mendorong perusahaan untuk menerapkan sistem manajemen lingkungan dengan baik, efisiensi energi, pengurangan pemakaian bahan berbahaya dan beracun, menerapkan prinsip 3R , koservasi air dan pengurangan emisi gas rumah kaca serta menjaga keanekaragaman hayati,” jelas Menteri LH, dalam acara  konferensi pers Pengumuman Hasil Penilaian PROPER 2011,di Hotel Santika, Jakarta, 30 November 2011.

“Selain itu perusahaan didorong untuk berbisnis secara bertanggung jawab dan mengalokasikan sebagian sumber daya yang dimilikinya untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya”, katanya.

Hadir dalam Pers Konferensi tersebut yaitu, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof.Dr.Balthasar Kambuaya,MBA,Prof.Dr.Surna T Djajadiningrat, Drs.MR. Karliansyah Msi, Drs. Sudariyono.

Pada periode penilaian tahun 2010 – 2011 ini terdapat 5 (lima) perusahaan yang berhasil mendapatkan peringkat EMAS yaitu:

a.     PT. Holcim Indonesia, Tbk – Cilacap Plant

b.    PT. Pertamina Geothermal Area Kamojang

c.     Chevron Geothermal Salak, Ltd.

d.    PT. Medco E&P Indonesia – Rimau Asset

e.     PT. Badak NGL

PROPER berhasil mendorong perusahaan untuk meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan. Dari 654 perusahaan yang dinilai selama dua periode berturut-turut, 25% berhasil meningkatkan kinerjanya, 64% tetap peringkat kinerjanya dan hanya 11% yang mengalami penurunan kinerja pengelolaan lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup juga mendorong perusahaan melakukan upaya-upaya sukarela dalam menginternalisasi isu lingkungan dengan membuat kriteria-kriteria yang mendorong perusahaan untuk menerapkan sistem manajemen lingkungan dengan baik, melakukan efisiensi energi, pengurangan pemakaian bahan berbahaya dan beracun, menerapkan prinsip 3R, melakukan konservasi air dan pengurangan emisi termasuk emisi gas rumah kaca serta menjaga keanekaragaman hayati. Selain itu, perusahaan didorong untuk berbisnis secara bertanggungjawab dan mengalokasikan sebagian sumberdaya yang dimiliki untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya.

Hasil pengawasan PROPER juga diintegrasikan kedalam sistem penegakan hukum lingkungan. Sejumlah 24 perusahaan yang berperingkat Hitam pada PROPER periode 2009-2010 yang lalu telah diserahkan penanganannya kepada unit yang menangani penegakan hukum lingkungan. Tujuh perusahaan sedang dalam proses penyidikan karena patut diduga melakukan pelanggaran yang memenuhi unsur pidana lingkungan, 13 perusahaan dikenakan sanksi administrasi berupa teguran tertulis dan/atau paksaan pemerintah, dan 4 perusahaan karena berdasarkan hasil pulbaket telah melakukan upaya perbaikan dikembalikan kedalam sistem pengawasan PROPER.dody/LI-07