Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
EKONOMI & BISNIS

Pengenaan BMAD Produk Nylon Filament Yarn Diperpanjang 

LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah India memperpanjang penyelidikan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) produk Nylon Filament Yarn / NFY (HS No. 5402) asal Indonesia. Bahkan dalam pengumuman 19 November 2011, itu juga terdapat produk sejenis asal  RRT, Taiwan, Malaysia dan Thailand. Namun, semuanya masih dalam proses penyelidikan.

Ernawati, Direktur Pengamanan Perdagangan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan mengatakan pengenaan BMAD, sebesar 0,46 US$/kg – 1,1 US$/kg. Pengecualian produk high tenacity yarn of nylon (HS No. 5402.10) dan fishnet yarn (HS No. 5402.10).

Penyelidikan perpanjangan pengenaan BMAD terhadap produk NFY ini dimulai pada 27 Agustus 2010 atas permohonan dari industri domestik India, yaitu Association of Synthetic Fiber Industry (ASFI) atas nama M/s Century Enka Ltd, M/s JCT Ltd dan M/s GSFC Ltd, M/s Prafull Overseas, Surat dan M/s Gujarat polyfilms Pvt Ltd (GPPL).

Pengenaan BMAD pertama kali adalah pada 3 Juli 2006 sebesar 77,93 Rs/kg atau 1,7 US$/kg (original case diinisiasi pada 4 Juli 2005). Dalam penyelidikan ini terdapat 6 (enam) perusahaan Indonesia yang dituduh telah melakukan dumping.

“Pemerintah Indonesia sejak awal inisiasi terus melakukan dukungan terhadap perusahaan untuk kooperatif dan meminta DGAD agar memberikan perpanjangan waktu terkait pengisian kuesioner oleh perusahaan yang memerlukan waktu lebih panjang dari yang dijadwalkan oleh DGAD,” kata Ernawati.

Dari hasil penyelidikan tersebut, para pihak terkait yang merasa berkeberatan dengan keputusan perpanjangan pengenaan BMAD, dapat melakukan upaya hukum dengan mengajukan keberatan terhadap keputusan yang dikeluarkan oleh DGAD India kepada Customs Excise and Service Tax Appellate Tribunal.

Menurut data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Perdagangan, India merupakan pangsa pasar ekspor yang menempati urutan ke-11 untuk produk NFY Indonesia pada tahun 2011, dengan total ekspor mencapai volume 4,5 juta ton pada periode Januari-Agustus.

Baca Juga:  Presiden dan Gubernur Anies tertawa lepas, drama korupsi bakso dimainkan Menteri Erick Thohir, Makarim dan Whishnu Tama

Sementara, volume ekspor Indonesia ke India mengalami penurunan sejak dikenakan BMAD pada tahun 2006. Pada tahun 2006 volume ekspor produk NFY Indonesia ke India mencapai 28 juta ton, kemudian mengalami penurunan drastis menjadi 9,5 juta ton pada tahun 2007; 8 juta ton pada tahun 2008; 9,4 juta ton pada tahun 2009; dan 9,5 juta ton pada tahun 2010.day/LI-07