Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
BALI / NTB / NTT / PAPUA

Lima Kandidat Layak Pimpin Komisi Informasi di Bali 

LENSAINDONESIA.COM: Hasil tracking Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar terhadap 12 nama kandidat, ternayata ada beberapa yang layak menduduki komisioner. Namun demikian, ada pula yang tidak punya kompetensi untuk duduk di Komisi Informasi (KI) Provinsi Bali.

Menggandeng Sloka Institute, AJI merilis hasil penelusuran rekam jejak para calon, mulai berlatar belakang pengusaha hingga wartawan.

Hasil penulusuran rekam jejak calon komisioner versi AJI telah disampaikan ke DPRD Bali sebagai bahan masukan dalam memilih komisioner disamping hasil fit and proper test yang nantinya dikirim ke Gubernur Bali.

“Nantinya gubernur memilih 5 komisioner yang dianggap layak untuk masa jabatan empat tahun ke depan,” ujar Ketua AJI Denpasar dalam breefing media tentang pembentukan KI Bali, di Denpasar, Jumat (16/12/2011).

Sementara, dasar pernilaian terhadap calon komisioner, menyangkut pengalaman dan kemampuan berorganisasi serta komitmen bekerja sepenuh waktu. “Kami juga telah mengkaji integritas pribadi, kemudian kemampuan komunikasi calon,” imbuhnya.

AJI juga melihat bagaimana calon komisioner dalam menjawab pertanyaan yang diajukan seperti kedalaman wawasan, ketrampilan komunikasi dan human relation.

Dari 12 calon akan diambil 5 orang untuk menduduki jabatan sebagai anggota KI di Bali serta lima kandidat lagi sebagai cadangan. “Jika komisi ini sudah terbentuk, maka merekalah yang nantinya akan menangani sengketa informasi,” ujarnya.

“Jadi jika ada masyarakat yang dipersulit dalam mengakses informasi di lembaga publik, maka bisa dilaporkan ke KI Bali. Adapun hasil fit and proper test versi AJI, telah dirangking berdasar nilai tertinggi dari para calon komisioner. Pertama diduduki Gunadjar,” lanjut Raka Suwana.

Ketiga rangking tertinggi itu mendapatkan skor yang sama, yakni 240. Kemudian peringkat selanjutnya adalah Anjasmara dengan skor 235, disusul kemudian Agus Astapa dan Luh Putu Anggraeni yang sama-sama mengemas skor 225.

Baca Juga:  Proyek Ancol tertunda, Crown Group lebih pilih kembangkan properti Australia lagi

Ranking berikutnya diduduki Legawa Partha dan Gusti Bagus Wirajasa, yang sama-sama mengantongi skor 220.

Rofiqi mengatakan, lewat tracking yang dilakukannya itu, bisa memberikan gambaran calon secara obyektif. Sehingga, bisa memperkecil terjadinya pemilihan yang berdasar kedekatan atau lobi-lobi politik.

Dengan demikan, diharapkan lembaga publik di Bali segera membentuk pejabat pengelola Informasi Publik, apalagi UU 14/2008 tentang keterbukaan informasi publik sudah lama disahkan.

“Kami mendesak lembaga publik di Bali seperti seluruh SKPD segera menyesuaikannya,” imbuh wartawan Tempo ini. rohmat/LI-10