Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    

Sore Nanti, Jenazah Sastrawati Lan Fang Diterbangkan dari Singapura 

LENSAINDONESIA.COM: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Lan Fang, penulis novel produktif asal Surabaya, yang dekat dengan para kiai NU,  meninggal dunia, Minggu (25/12/2011) di Singapura. Di usianya, 41 tahun, Lan Fang menghembuskan nafas terakhir di RS Mounth Elizabeth Singapura, tepatnya pukul 12.30.

Jenazahnya akan diterbangkan ke Surabaya menggunakan pesawat  airline, Senin sore ini. Tiba di Bandara Juanda Surabaya, diperkirakan selepas Magrib. Dari Juanda langsung disemayamkan ke rumah persemayaman Balai Adi Jasa room 16, Jalan Demak 105, Surabaya. Cuma, jam berapa tiba di Adi Jasa,  belum bisa dipastikan.

“Tergantung proses di Juanda,” kata Wina, Owner di Padma Tour Organizer, sahabat Lan Fang di Surabaya kepada LICOM, Minggu malam.

Dari Singapura, yang membawa pulang ke Surabaya, adik kandungnya sendiri, Janet Gautama. Ikut pula dokter Yen yen dari Surabaya, yang selama ini setia mendampingi perawatan Lan Fang di Singapura. Beruntung, sastrawati yang semasa hidup dikenal cukup sederhana ini, selama menjalani perawatan di rumah sakit Singapura dibantu Yayasan Margo Utomo.

Sehingga, untuk membawa jenazahnya meninggalkan rumah sakit Singapura, diperkirakan akan lancar. “Ya, tentu saja, kan mahal berobat ke luar,” kata Wina.

Lan Fang bernama lengkap Go Lan Fang itu mendapat perawatan di RS Singapura sejak 21 Desember 2011. Praktis, dia hanya beberapa hari menghirup udara rumah sakit Singapura. Dokter Yen yen dan adik kandung Lan Fang terpaksa membawa ke Singapura, karena kondisi almarhum terserang kanker payudara sudah stadium akut, hingga menyerang ke hati.

Sebelumnya, penulis fiksi humanis ini sempat mendapat perawatan beberapa hari di RSK St. Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya.  Dia termasuk terlambat terdeteksi mengidap kanker.  Rupanya, Lan Fang tak pernah mengeluh dan memeriksakan sejak dini gejala-gejala sakit yang dideritanya.

Lan Fang semasa hidupnya, barangkali, tergolong sastrawati  Tionghoa genuine di Indonesia. Ekspresi humanis bukan cuma tertuang dalam karya-karyanya. Tapi juga mengalir dalam pergaulan hidup kesehariannnya. Dia penganut Budhis, namun cukup dekat dengan para kiai NU.

Malahan, peringatan satu tahun meninggalnya Gus Dur, dia super sibuk menjadi panitia. “Masih ingat betul bagaimana mbak Lan Fang super sibuk menjadi panitia acara satu tahun wafatnya Gus Dur yang dilaksanakan oleh komunitas Tionghoa,” demikian kesan Riedjalyev di surat elektroniknya.

Dia pernah mengaku kepada LICOM, sangat tertarik mempelajari ilmu tasawuf. Karena itu, dia mendekati banyak kiai NU.

Lan Fang pun semasa hidup kepada LICOM, juga pernah mengaku menyimpan setumpuk catatan prilaku politik Pilkada 2010 di Surabaya, termasuk karakter para politisi pecundang. Namun, dia tak ingin menuangkan secara verbal meski dibayar berapa pun.

Kearifannya itu mengingatkan cerita bersambungnya, “Ciuman Di Bawah Hujan”, yang dimuat di harian Kompas 2009, dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam sebuah novel. Menyiratkan bahwa Lan Fang tak ingin berkarya politik slogan.

Meski dilahirkan di Banjarmasin dari keluarga Tionghoa, pasangan Johnny Gautama dan Yang Mei Ing (Alm), tepatnya 5 Maret 1970, namun pergaulan keseharian Lan Fang terkesan menjauhi eksklusifisme. Sahabat maupun teman-teman dekatnya pun tidak dari kalangan etnis Tionghoa. Tak heran, Lan Fang pernah mengaku mengagumi pikiran pluralisme Gus Dur.

Lan Fang yang setelah lulus SMA di Banjarmasin, hijrah ke Surabaya menmpuh studi di Fakultas Hukum Ubaya. Toh, setelah lulus, dia sreg menggeluti dunia sastra ketimbang berkarir bidang hukum. Dalam perjalanan berproses kreatif, dia mampu mempersembahkan hasil perenungannya dalam bentuk novel. Seperti “Reinkarnasi” (2003)”, “Pai Yin” (2004)”, “Kembang Gunung Purei” (2005), “Laki-laki Yang Salah” (2006), “Yang Liu” (2006), “Perempuan Kembang Jepun” (2006), “Kota Tanpa Kelamin” (2007), dan “Lelakon” (2007).

Kesetiaannya berkarya sastra, mengantarkan Lan Fang masuk nominasi “Khatulistiwa Award 2008” untuk novelnya “Lelakon”. Dan, cerpen-cerpennya masuk “20 Cerpen Terbaik Indonesia” versi Anugrah Sastra Pena Kencana tahun 2008 dan 2009. Meski demikian, Lan Fang tetap bersahaja dan mau berbagi ilmu menjadi pembimbing penulis-penulis muda di Surabaya.

Penampilan kesehariannya tak mengesankan perempuan bereputasi cukup diakui. Kebersahajaannya tampil sederhana, nyatanya Lan Fang konsekuen tetap mau tersenyum ketika suatu hari LICOM menyebutnya lebih mirip “tacik-tacik pedagang Pasar Atom” ketimbang novelis yang sarjana hukum.

Lan Fang semasa masih sehat tak cuma dekat dengan kiai, memang. Tapi, dia juga punya banyak kenalan pengusaha, birokrat, dan politisi, khususnya di Surabaya maupun Jawa Timur. Toh, semua itu tak merubah pilihan hidupnya. Kesehariannya bersama suami dan anaknya tetap bertahan menempati rumah sederhana di Perum Pepelegi Surabaya, dan kemana-mana senantiasa setia dengan kendaraan sepeda motor butut.

Bisa jadi lantaran ketegarannya komitmen menerima hidup serba sederhana, sehingga ia terkesan seperti tak ingin mengeluh, meski sejatinya mengidap kanker payu dara akut. Faktanya, penyakit ini terdeteksinya terlambat.

Sebagai asset (sastrawati) masyarakat etnis Tionghoa, sebenarnya kamu mudah untuk jadi kaya?

Ditanya LICOM begitu, di masa sehat pertengahan 2010 lalu, Lan Fang cuma menjawab dengan kernyitan dahi, dan tersenyum. Malahan, dia seolah gembira menceritakan bagaimana saat kesulitan mendapatkan uang buat bayar sekolah anaknya. “Hidup ini, indah ya,” kata Lan Fang. Selamat jalan, Lan Fang! *LI04