LENSAINDONESIA.COM: Krisis ekonomi di zona Euro sepertinya tidak akan pulih dalam waktu dekat. Berbagai pengamat memprediksikan krisis ini masih akan berlanjut di tahun 2012. Johan Van Overtveldt, pengamat asal Jerman memprediksikan, krisis ekonomi di zona Euro akan semakin parah.

Kebijakan pemerintah Amerika Serikat soal paket hemat yang diterapkan di zona Euro menimbulkan tekanan hebat bagi bangsa di kawasan ini disebut-sebut Overtveldt sebagai salah satu faktor yang memperparah kondisi kawasan ini.

Zona Euro di tahun 2012 akan menghadapi krisis ekonomi yang semakin menghebat. Berlanjutnya krisis finansial di zona Euro kemungkinan akan membuat Yunani keluar dari organisasi, tandas pengamat asal Jerman ini.

Saat ini negara-negara zona Euro menghadapi krisis internal di bidang ekonomi akibat melambungnya hutang. Sementara itu, para pengamat ekonomi menegaskan bahwa krisis ini masih akan terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Ternyata dampak dari krisis di Zona Euro ini juga merambah negara-negara kaya minyak di kawasan Teluk Persia. Pasar finansial di negara-negara Arab kawasan Teluk Persia dilaporkan mengalami kerugian besar.

Menyusul kekhawatiran atas meningkatnya krisis hutang zona Euro, pasar finansial dan bursa efek negara Arab di kawasan Teluk Persia menanggung kerugian besar di tahun 2011.

Indek di dua bursa Uni Emirat Arab Kamis (29/12) naik, namun angka ini tidak berbeda jauh dengan beberapa tahun sebelumnya. Sektor properti di Emirat dan sejumlah negara Arab lainnya tahun depan akan menghadapi kendala serius dan tidak terdapat indikasi pemulihan di sektor ini.

Sementara itu, indek pasar bursa Qatar anjlok empat persen. Di Arab Saudi juga dilaporkan indek pasar bursa negara ini pada 2011 anjlok sekitar 3,1 persen. Pada Rabu indek pasar bursa Riyadh mengalami kemerosotan sekitar 3 persen. Arab Saudi sendiri menerapkan program darurat sekitar 93 miliar dolar untuk menanggulangi krisis ekonomi.

Untuk kawasan Eropa sendiri, Hongaria dilaporkan terpaksa meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk keluar dari krisis yang dihadapinya. Dilaporkan parlemen negara ini Jumat (30/12) merilis surat keputusan untuk mengizinkan pemerintah melakukan perundingan dengan dana keuangan internasional termasuk IMF.

Para pengamat memprediksikan Hongaria tahun depan akan menghadapi resesi ekonomi dan terpaksa memberlakukan paket penghematan ekonomi. Tak hanya Hongaria, kini Swiss pun mulai terancam imbas dari krisis ekonomi yang melanda zona Euro.

Aliansi buruh Swiss memperingatkan bahwa kemungkinan krisis Euro akan mengancam negara ini dan mengingat nilai tukar Frank Swiss yang tinggi ditakutkan ribuan buruh dan staf pemerintah akan kehilangan pekerjaan mereka.

Perdana Menteri Italia, Mario Monti menjelaskan, program baru pemulihan ekonomi nasional tidak membutuhkan sumber-sumber negara karena Italia tidak memiliki cadangan yang besar. Laju produksi bruto Italia dalam sepuluh tahun terakhir tidak melampaui satu persen.mad/skn