LENSAINDONESIA.COM: Anak yang tumbuh sehat merupakan idaman setiap keluarga, namun bila terkena kanker perlu disikapi bijaksana karena anak merupakan anugerah dan titipan Tuhan Yang Kuasa.

Data statistik resmi dari IARC (International Agency for Research on Cancer) menyatakan bahwa 1 dari 600 anak akan menderita kanker sebelum umur 16 tahun.

Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa diperkirakan terdapat 650 pasien kanker anak per tahun. Sedangkan di seluruh Nusantara dengan jumlah 220 juta jiwa diperkirakan terdapat sekitar 11.000 kasus baru per tahun. Sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu.

Apabila kanker menimpa pada anak, maka akan menjadi beban yang kompleks bukan hanya dari orangtua, melainkan saudara-saudaranya, dokter, perawat, sekolah dan masyarakat dan lingkungannya.

Untuk mengurangi beban tersebut, patut diacungi jempol apa yang dilakukan Pinta Manullang Panggabean bersama dua sahabatnya yakni Ira Soelistyo dan Hj. Aniza M. Santosa mendirikan Rumah Kita.

“Rumah Kita merupakan sarana tempat tinggal sementara bagi para penderita serta keluarganya yang sedang rawat inap maupun rawat jalan yang diharapkan dapat menunjang pengobatan dan perawatan secara tuntas,” kata Pinta Manullang Panggabean kepada LICOM saat ditemui di Rumah Kita-2 di Jln. Anggrerk Nelly Murni Blok A/110, Slipi, Jakarta Barat.

Menurut Pinta, Rumah Kita adalah salah satu program Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) yang didirikan oleh orangtua penderita dan sejumlah simpatisan yang peduli pada anak-anak penderita kanker.

Pinta pun makin bersemangat mengurus Rumah Kita untuk membantu anak-anak penderita kanker saat anak lelaki satu-satunya dari tiga anaknya meninggal akibat kanker darah (leukemia).

“Awalnya agak sulit. Masyarakat menolak kehadiran kami saya maklum karena ketidaktahuan masyarakat. Kami bertiga dari 5 pasien menempati rumah petak di gang sempit di daerah Percetakan Negara, Jakarta Pusat,” kenang Pinta.

Pinta menjelaskan kini Rumah Kita terdapat dua lokasi yakni di Percetakan Negara, Jakarta Pusat disebut Rumah Kita-1 dan di Anggrek Nelly Murni, Slipi, Jakarta Barat disebut Rumah Kita-2.

Rumah Kita-1 menampung 18 pasien yang sedang menjalani pengobatan di RSCM, RS Carolus dan RSPAD Gatot Subroto. Sedangkan Rumah Kita-2 menampung 21 pasien

“Rumah Kita menampung keluarga dan anak-anak penderita kanker usia 0 – 18 tahun yang berobat atau perawatan di rumah sakit di Jakarta. Mereka menderita kanker darah atau leukemia, tumor otak, kanker mata atau retinoblastoma, kanker getah bening atau limfoma, kanker tulang, kanker otot, kanker syaraf dan kanker ginjal. Disini makan, minum, tinggal secara gratis,” ungkap Pinta.

Pinta bersyukur berkat peran media sehingga Rumah Kita diterima masyarakat dan donatur berdatangan membantu. Khususnya sejak YKAKI diliput Metro TV dalam acara Kick Andy Show perihal Rumah Singgah, pihaknya menerima berbagai dukungan diantaranya dari Alfamart berupa bantuan sembako setiap bulan dan satu unit mobil GrandMax Daihatsu untuk operasional. “Bahkan, perusahaan taxi Express Group menyediakan gratis layanan antar jemput dari rumah sakit ke Rumah Kita untuk pengobatan dan perawatan” ujar Pinta terharu.

Pinta mengharapkan ada perusahaan cargo atau expedisi yang mau bersedia membantu anak-anak penderita kanker. “Sejak tahun 2006 kita telah menampung sekitar 300 pasien anak-anak penderita kanker. Mereka berasal Papua, Kalimantan, Batam, Ternate, Flores, Jawa Tengah, Jawa Barat, Pandeglang dan Jakarta. Sekitar 300 persen telah meninggal. Kami kesulitan saat mengirimkan kepulangan jenazah ke daerah karena biaya yang mahal, sehingga terpaksa dimakamkan di Jakarta,” jelas Pinta.

Pinta juga mengharapkan dukungan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan karena banyak pasien anak-anak penderita kanker dari keluarga kurang mampu.

“Kanker pada anak dapat diupayakan sembuh bila terdeteksi secara dini dan segera diobati dan dirawat sebaik-baiknya,” tandas Pinta.rudi