LENSAINDONESIA.COM: “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan sebesar 6,5 %. Angka itu sesuai dengan proyeksi. Sungguh suatu hal yang menggembirakan dan patut disyukuri bahwa kita mampu mencapai tingkat pertumbuhan itu pada saat kondisi kesulitan dan krisis global. Pertumbuhan ekonomi dunia adalah 4,0 %, sementara di banyak negara pertumbuhannya ’terkoreksi’ sehingga menurun dari perkiraan semula, bahkan negatif.”

Demikian kata Prof. Armida S. Alisjahbana, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dalam Konferensi Pers Awal Tahun pada tanggal 3 Januari 2012 di kantornya. Dalam konferensi pers yang
bertajuk Kinerja Pembangunan Nasional 2011 di Kantor Bappenas, 3/01/2012, Meneg PPN/Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana didampingi Staf Khusus Menteri, Dedy Masykur; Deputi Ekonomi, Prasetijono Widjojo; serta Kepala Biro Humas dan TU Pimpinan, Maruhum Batubara.

Kinerja positif itu disertai pula oleh kinerja positif dalam berbagai aspek ekonomi makro, misalnya meningkatnya FDI, meningkatnya PMTB, meningkatnya ekspor, tumbuhnya impor, dan terkendalinya inflasi. Ekspor nonmigas meningkat pada tahun 2011.

Terjadi pula peralihan tujuan ekspor terbesar dari Jepang pada tahun 2010 menjadi China pada tahun 2011, dengan pangsa sebesar 13,1 % dari total ekspor nonmigas dari Januari-November 2011 (sebesar › USD 17,1 miliar). Impor tetap tumbuh pada tahun 2011, dan proporsi yang terbesar adalah untuk impor bahan baku dan barang modal.

Dalam pembangunan industri terjadi proses reindustrialisasi dengan gap pertumbuhan industri nonmigas dan pertumbuhan PDB semakin mengecil sehingga keduanya hampir sama. Bila kecenderungan ini berlanjut terus maka pertumbuhan industri nonmigas berpotensi melebihi pertumbuhan PDB.

Penggerak utama pertumbuhan industri nonmigas itu yang tertinggi adalah industri logam dasar, besi, dan baja (15,03 % dalam 3 triwulan 2011), disusul industri tekstil, barang kulit dan alas kaki (8,63 %), industri makanan, minuman, dan tembakau (7,29 %), dan lain-lain. Hal yang menggembirakan di antara industri yang tumbuh baik itu adalah industri yang bersifat padat karya.

Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami penurunan dari 7,14 % menjadi  6,56 %. Hal  yang  menarik adalah  bahwa  TPT menurut  tingkat  pendidikan  mengalami penurunan yang cukup nyata untuk tingkat SMTA ke atas. Penurunan nyata terlihat untuk TPT tingkat diploma turun dari 12,78 % menjadi  7,16 % dan sarjana dari 11,92 % menjadi  8,02 %.

Jumlah pekerja informal memang masih merupakan bagian terbesar dari seluruh pekerja di Indonesia. Namun, dalam tahun 2011 terdapat peningkatan jumlah pekerja formal sebanyak 5,71 juta orang dari tahun 2010, atau sebesar 4,76 % dari seluruh total pekerja. Pada tahun 2011 juga terdapat peningkatan penyerapan tenaga kerja dari investasi, baik PMA maupun PMDN. Peningkatan kualitas pekerjaan juga terlihat dari menurunnya pekerjaan yang kurang produktif.

Masalah kemiskinan masih tetap merupakan persoalan serius yang kita hadapi. Penanggulangan kemiskinan yang dilakukan melalui berbagai kegiatan ekonomi secara luas dan program-program yang diarahkan untuk secara khusus mengentaskan kemiskinan telah menghasilkan penurunan jumlah orang miskin, walaupun dengan laju penurunan yang relatif lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya. Pada bulan September 2011 jumlah orang miskin mencapai 12,36 %. Angka itu berada di dalam ‘range’ sasaran.

Fenomena kemiskinan tidak selalu sama dengan fenomena pengangguran. Keduanya berkaitan, namun tidak selalu dalam arah yang sejalan, misalnya kemiskinan selalu meningkat karena pengangguran meningkat, atau sebaliknya. Pengangguran adalah fenomena yang menonjol di perkotaan, sedangkan kemiskinan adalah fenomena yang menonjol di perdesaan. Disparitas kemiskinan antara perkotaan dan perdesaan sangat tinggi, demikian pula disparitas kemiskinan antarprovinsi.

Banyak provinsi padat penduduk (di Jawa) tingkat (persentase) kemiskinannya rendah dibandingkan banyak daerah di luar Jawa, misalnya Papua (32,0 %), Papua Barat (31,9 %), dan Maluku (23,0 %). Namun, karena jumlah

penduduknya jauh lebih padat masalah kemiskinan di Jawa tidak bisa hanya dilihat dari sisi persentasenya saja, lebih-lebih angka penurunannya juga cenderung lebih rendah.

Beberapa daerah patut memperoleh acungan jempol karena dengan berbagai kiat yang dilakukan mengalami penurunan tingkat kemiskinan yang signifikan, misalnya Gorontalo (10,38 %), Maluku (10,03 %) , sementara secara nasional mengalami penurunan sebesar 5,26 % dalam periode 2006-2011.

Hal lain yang cukup membesarkan hati dalam penanggulangan kemiskinan adalah bahwa dengan situasi ekonomi global yang tidak menentu, jumlah orang miskin yang meningkat menjadi tidak miskin (hampir miskin, hampir tidak miskin, dan tidak miskin) persentasenya jauh lebih besar dari pada yang tidak miskin menjadi miskin.

Keadaan tersebut di atas seyogyanya dapat dijadikan momentum untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kinerja kita di tahun 2012 ini.ari