LENSAINDONESIA.COM: Pengusaha menilai aneh bin ajaib bila nantinya pemerintah akan melarang impor buah- buahan masuk dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Artinya untuk konsumsi masyarakat Ibu Kota, impor itu hanya bisa masuk dari Bandara Soekarno Hatta. Dan larangan itu menyusul diberlakukannya tata niaga importasi buah-buahan dalam waktu dekat.

Hal ini disebabkan oleh diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian No. 89/Permentan/OT.140/12/2011 tentang Persyaratan Tekhnis dan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Buah-buahan dan Sayuran Segar ke dalam Wilayah Indonesia revisi dari Permentan No. 37/Kpts/HK.060/1/2006.

Hal itu diungkapkan Ketua II GINSI (Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia) Erwin Taufan kepada LICOM, di Jakarta, Selasa (3/01) .

Essensinya peraturan tersebut memperketat pintu masuk buah dan sayur impor menjadi empat pintu masuk mulai pertengahan Maret 2012 dibandingkan dengan sebelumnya melalui delapan pintu masuk.

Keempat pintu masuk produk hortikultura (sayur dan buah) impor yaitu Pelabuhan Belawan Sumatra Utara, Pelabuhan Makasar Sulawesi Selatan, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dan Bandara Soekarno Hatta Tangerang.

“Saya telah melihat drafnya. Tapi nggak lucu dong pemerintah melarang masuk impor buah dari Pelabuhan Tanjung Priok. Alasannya takut importasinya banjir. Gimana impor mau banjir, wong kuotanya sudah dibatasi kok. Jadi larangan itu tidak masuk akal,” kata pengusaha yang juga Ketua II GINSI (Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia) Erwin Taufan.

Taufan khawatir, timbulnya protes masyarakat atas langkah pemerintah melarang impor buah itu masuk dari Pelabuhan Tanjung Priok. Lagi pula tingkat konsumsi buah- buahan di ibu kota adalah yang paling tinggi di negeri ini.

“Pasti dipotes masyarakat maupun pengusaha. Jakarta ini daerah paling banyak mengkonsumsi buah. Ya Restoran, Hotel, Pasar, Klenteng dan sebagainya. Jadi larangan itu mohon dipertimbangan lebih matang lagi,” tegasnya.

Pada kesempatan itu Erwin Taufan juga meminta pemerintah melihat kesiapan Petani Indonesia menghasilkan buah yang memenuhi selera masyarakat dan orang asing.  “Apakah buah kita siap bersaing, atau apakah buah kita sudah setara dengan buah konsumsi tamu- tamu hotel kita. Di Hotel itu banyak orang  asing lo. Kalau buahnya nggak enak, turis kita juga nggak betah di sini,” tandas Erwin.

“Jadi jangan ujug- ujug bikin peraturan. Apalagi jika peraturan itu bukan menyelesaikan masalah- tapi melahirkan masalah baru. Betul, kita memang mencintai produktivitas pertanian kita, Tapi kita harus bina dulu mereka hingga bisa menghasilkan buah- buahan yang diminati rakyat serta tamu- tamu asing. Kalau tamu asing nggak senang di sini, kan pemasukan devisa kita juga anjlok,” pungkasnya.hidayat