Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
HEADLINE JATIM RAYA

Rhoma Irama Resah Pembajakan di Jawa Timur Terbesar di Indonesia 

LENSAINDONESIA.COM: Raja dangdut Rhoma Irama meresahkan tingginya pembajakan hak cipta di Indonesia masih termasuk yang tertinggi di dunia. Hal itu dirasa sangat merugikan seniman, terutama pemusik dan penyanyi.

Raden Oma Irama yang populer dengan nama Rhoma Irama ini menandaskan, dari seluruh wilayah di Indonesia, Jawa Timur adalah daerah yang menjadi pusat pembajakan terbesar di Indonesia. Saking kesalnya, musisi yang tercatat pernah memperoleh 11 Golden Record tersebut pada14 Desember 2011 lalu sempat mendatangi Mapolda Jatim untuk meminta polisi agar lebih serius mengusut tuntas kasus pembajakan hak cipta.

“JawaTimur ini adalah daerah yang menjadi pusat pembajakan tertinggi di Indonesia. Kita telah berkerjasama dengan aparat kepolisian untuk memberatasnya,” kata Haji Rhoma usai bertemu Gubernur JawaTimur Soekarwo dalam rangka persiapan Munas Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI) di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu Sore (04/01).

Untuk melindungi hak kekayaan intelektual (HKI) dari pembajakan, pentolan Soneta Group  itu juga bakal memasukan problema tersebut dalam misi visi yang menjadi agenda Munas PAMMI ke 3 yang bakal digelar di Surabaya awal tahun 2012 ini.  “Masalah pembajakan nanti akan menjadi salah satu misi dan visi Munas,” singkat Ketua Umum PAMMI ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, usai bertemu dengan Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiatmoko, Rhoma menyebut hampir 90% hasil bajakan telah beredar di pasaran. Hal itu dirasa sangat merugikan seniman terutama pemusik dan penyanyi.  Aksi pembajakan hak cipta dan lagu membuat negara mengalami kerugian sekitar Rp 12 miliar per tahun.

Pelantun lagu Darah Muda ini mengungkapkan jika peredaran VCD dan CD bajakan di pasaran lebih menguasai dibandingkan yang original. Perbandingannya 90 banding 10. Artinya, produk bajakan itu telah menguasai pasar sebanyak 90 persen.ridwan

Baca Juga:  KMUP Bandung desak adili tindakan rasis terhadap Mahasiswa Papua