LENSAINDONESIA.COM: Nilai Tukar Nelayan (NTN) rata-rata tahun 2011 sebesar 106,24, meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 105,55 dan melampui target NTN yang telah ditetapkan sebesar 105. Kondisi ini menggambarkan bahwa terjadi peningkatan kesejahteraan nelayan, dimana pendapatan (revenue) lebih tinggi dibanding pengeluaran (expenditure).

Keberadaan NTN digunakan sebagai salah satu indikator dalam melihat tingkat kesejahteraan nelayan. Selama ini melihat kondisi ekonomi nelayan hanya lihat dari pendapatan yang diperoleh.  Penghitungan NTN dimulai sejak KKP bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, karena sebelumnya perhitungan NTN masuk kedalam Nilai Tukar Petani. Dengan penghitungan secara khusus, maka kini kelompok masyarakat pesisir yang sering dikategorikan sebagai segmen masyarakat mayoritas miskin ini telah memiliki ukuran yang lebih akurat.

Dari indikator NTN,  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bisa memastikan rata-rata nelayan sudah mampu menyimpan uang hasil usaha penangkapan ikan setelah membelanjakan kebutuhan rutin. Demikian rilis media dari Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian kelautan dan perikanan, Yulistyo Mudho yang diterima LICOM, Kamis (5/01).

Menurutnya, Nilai Tukar Nelayan bersifat fluktuatif, dimana besar kecilnya sangat dipengaruhi oleh musim, minimnya pasokan listrik, kondisi cuaca buruk dan kelangkaan BBM yang dipasok ke kapal penangkap ikan. Kemudian juga dipengaruhi oleh, musim migrasi ikan ke habitat asal, mekanisme pasar, hingga usia kapal penangkap ikan termasuk alat penangkap yang sudah kadaluarsa. Nilai tukar umumnya digunakan untuk menyatakan perbandingan antara harga barang-barang dan jasa yang diperdagangkan antara dua atau lebih negara, sektor, atau kelompok sosial ekonomi.

Selain itu, NTN juga digunakan sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan secara relatif dan merupakan ukuran kemampuan keluarga  nelayan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya. Dengan demikian maka kini untuk mengukur tingkat kesejahteraan nelayan, semakin diperoleh yang lebih akurat dan obyektif.

Pada tahun 2011, KKP melakukan beberapa inovasi dan terobosan guna tingkatkan kesejahteraan nelayan, seperti melakukan penghapusan retribusi untuk meningkatkan pendapatan nelayan, mengadakan kontrak produksi dengan Pemerintah Daerah, pengembangan Minapolitan, Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) dan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR).

Selain itu, KKP akan menjaga pasokan Bahan Bakar Minyak(BBM) untuk kepentingan nelayan serta membuat jaring pengaman sosial nelayan yang meliputi, kartu nelayan, asuransi, dan sertifikat tanah untuk nelayan. KKP juga melakukan diseminasi informasi dan teknologi kepada nelayan dalam menangkap ikan di laut secara aman, efisien dan efektif pun terus dilakukan. KKP juga telah memanfaatkan teknologi dan mengirim informasi secara berkelanjutan seperti, prakiraan cuaca dan lokasi daerah tangkapan ikan (fishing ground) melalui pelabuhan perikanan. Memang belum semua nelayan memanfaatkannya, antara lain karena perbedaan tingkat adopsi teknologi masing-masing nelayan.

Jika penerimaan atau pendapatan lebih rendah dari pengeluaran, maka nelayan belum sejahtera. Demikian juga sebaliknya. Namun, jika pendapatan dan pengeluaran sama, maka secara statistik angka yang muncul dalam perhitungan NTN adalah 100. Angka 100 menggambarkan pendapatan dan pengeluaran sama. Di bawah 100 belum sejahtera dan di atas 100 dikatakan sejahtera. Dengan usaha terus menerus untuk mengembangkan keterampilan dan usaha nelayan, baik dari usaha penangkapan, budi daya maupun pengolahan, kita dapat berharap kesejahteraan nelayan terus meningkat pada tahun mendatang.hidayat