Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
EKONOMI & BISNIS

Perekonomian Indonesia akan Tetap Kuat di Tahun 2012 

LENSAINDONESIA.COM: Di tengah melambatnya laju pertumbuhan ekonomi global, Deutsche Bank justru memperkirakan pertumbuhan perekonomian Indonesia akan mencapai sekitar 6% pada tahun 2012.

Dalam acara Market Outlook tahunan yang diadakan Deutsche Bank hari ini di Jakarta, diuraikan pandangan positif mengenai pasar dan perekonomian Indonesia di tahun 2012. Paparan yang sama juga dipresentasikan kepada nasabah Deutsche Bank di berbagai kota di Asia setiap bulan Januari.

Taimur Baig, Chief Economist Deutsche Bank untuk Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia memasuki tahun 2012 dengan didukung oleh kuatnya daya beli dan keyakinan bisnis.

“2011 merupakan tahun bersejarah bagi Indonesia yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, sentimen investor yang sehat, inflasi yang berada di bawah tren, serta pasar komoditas yang positif. Kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2011 sangat mengesankan karena terjadi ketika momentum pertumbuhan ekonomi dunia tengah melemah,” ungkap Taimur.

“Meskipun melemahnya pasar komoditas dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi di tahun 2012, kami percaya bahwa perekonomian akan terus bergerak maju dan menjaga momentum dari sebagian besar sektor penggerak pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan menjadi landasan kuat yang mendorong konsumsi dan investasi, yang kemudian akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan pendapatan sekaligus menegaskan sentimen positif di sepanjang tahun 2012,” tambah Taimur.

Taimur memperkirakan kontribusi ekspor bersih terhadap pertumbuhan ekonomi akan menurun pada tahun 2012. Namun, penurunannya tidak akan lebih dari 0,5% terhadap pertumbuhan produk domestik bruto. Dari sisi investasi, Taimur memprediksikan aktivitas yang kuat pada sektor pertambangan, transportasi, infrastruktur, dan ritel.

Taimur juga memperingatkan bahwa meskipun inflasi tetap rendah pada tahun 2011, di tahun 2012 inflasi dapat naik mencapai lebih dari 6%.

Baca Juga:  Gubernur Khofifah dukung pembangunan Museum HAM Omah Munir di Batu

“Dengan latar belakang kapasitas yang mengetat, meningkatnya tekanan terhadap pendapatan dan permintaan yang akan melebihi suplai, kebijakan pemerintah untuk menjaga suku bunga di level yang sangat rendah akan mendorong ledakan pinjaman bank. Praktik untuk tidak menaikkan biaya administratif tampaknya akan memicu inflasi yang didorong permintaan (demand push inflation).”

Terkait dengan kebijakan moneter, Taimur memperkirakan tidak adanya penurunan suku bunga lebih lanjut. Meskipun demikian, menurutnya, Bank Indonesia tidak akan ragu untuk melakukan penurunan suku bunga jika inflasi menurun dan kondisi global yang memburuk. Taimur juga memperkirakan bahwa kinerja Rupiah dan obligasi pemerintah (SUN) akan melampaui kinerja regional mengingat Indonesia memiliki posisi pembiayaan eksternal yang kuat.

Dalam konteks pandangan ekonomi regional, Deutsche Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi di Asia akan melambat tajam pada dua kuartal ke depan sebagai reaksi atas menurunnya ekspor yang diakibatkan oleh resesi Eropa dan berlanjutnya penerapan kebijakan pengetatan moneter di Cina dan India untuk memperlambat pertumbuhan di kedua negara tersebut.

Deutsche Bank juga memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Asia akan mencapai titik terendah di kuartal pertama 2012, sedikit lebih awal dari Amerika Serikat dan Uni Eropa.rudi