LENSAINDONESIA.COM: Realisasi penerimaan perpajakan tahun 2011 adalah Rp 872,6 triliun atau mencapai 99,3 dari target sebesar Rp 878,7 triliun.  Dibandingkan dengan tahun 2010 maka realisasi penerimaan perpajakan tahun 2011 naik sebesar Rp 149,3 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 20,6%.

Demikian diungkapkan Fuad Rahmany dalam press conference Strategi Pengamanan Penerimaan Perpajakan Tahun 2012 di Auditorium Cakti Buddhi Bakti, Gedung Utama KPDJP, Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (10/1/2012).

Untuk realisasi rasio penerimaan perpajakan terhadap PDB (tax ratio) tahun 2012 mencapai 12,3% atau naik sebesar 1,0% dari PDB jika dibandingkan dengan tax ratio tahun sebelumnya sebesar 11,3%.

“Realisasi penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) tahun 2011 adalah sebesar Rp 431,08 triliun atau mencapai 99,8% dari target sebesar Rp 431,97 triliun. Dibandingkan dengan tahun 2010, maka realasasi penerimaan PPh tahun 2011 mengalami pertumbuhan 20,84%,” kata Fuad.

Fuad juga menjelaskan realisasi penerimaan Pajak Pertambahan Nlai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mencapai Rp 277,73 triliun atau mencapai 93,06% dari target sebesar Rp 298,44 triliun. Dibandingkan tahun sebelumnya, maka realisasi penerimaan PPN dan PPnBM ini mengalami pertumbuhan 20,45%.

Sedangkan realisasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) mencapai Rp 29,89 triliun atau mencapai 102,86% dari target sebesar Rp 29,05 triliun. Dibandingkan dengan tahun lalu, maka realisasi penerimaan PBB tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 4,58%.

“Diihat per jenis pajaknya, maka yang paling rendah capaian targetnya adalah PPN dan PPnBM yakni kurang Rp 21 triliun dari target Rp 298,44 triliun. Tetapi dari sisi kinerja pertumbuhan, kedua jenis pajak ini mengalami pertumbuhan Rp 20.45% realtif cukup baik,” katanya.

Fuad mengeluhkan PPN seharusnya dikenakan pada semua transaksi keuangan, tetapi pada kenyataannya Wajib Pajak sektor retail banyak yang belum memenuhi kewajiban penyetoran PPN sebagaimana mestinya.

Selain itu, masih banyak transaksi yang tidak tercatat atau yang diknal dengan ekonomi bawah tanah (underground ecoomy). Oleh karena itu, kata Fuad, pihaknya akan lebih fokus pada usaha perbaikan administrasi dan pengawasan sektor-sektor ini sehingga tidak ada lagi potensi PPN yang luput dari pengenaannya.

“Kuartal pertama tahun 2012 ini kita akan fokus pada training untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia bidang AR, Pemeriksa Pajak dat Juru Sita agar Wajib Pajak terlayani dengan baik dan target penerimaan perpajakan tahun 2012 tercapai,” kata Fuad sembari menambahkan rencana penerimaan perpajakan tahun 2012 sebesar Rp 1.032.57 triliun.rudi