Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Di kancah fesyen Belanda, Sosok Lily Suhendra sudah menjadi ‘jaminan mutu’. Di kancah fesyen Belanda, namanya sudah tidak diragukan lagi. Wanita asal Bandung ini mahir tata rias wajah, plus fotografer mode handal. Semua itu dicapainya dengan keuletan dan fokus dalam mengejar mimpi.

Perempuan muda ini sudah 11 tahun bermukim di ‘negeri kincir angin’. Selama itu dia telah merias banyak model terkenal serta melakukan berbagai sesi foto dari para perancang internasional, bintang televisi, maupun perusahaan di Belanda.

Lily Suhendra atau akrab disapa Lie ini baru bisa memetik hasilnya. Tidak  sedikit artis, tokoh dan model papan atas Belanda pernah ‘disentuh’ wajah. Kemudian diabadikan dalam karya fotografi ciamik.

Mereka yang pernah puas dengan jasa Lie diantaranya Winston Post (bintang televisi dan pembawa acara televisi Belanda), Euvgenia Parakina (penari balet), perancang Hans Ubbink, perancang China Sheguang Hu, serta para model di Amsterdam International Fashion Week, sudah merasakan jepretan kameranya.

Saat ini, Lie menjadi fotografer di acara-acara pesta yang diadakan oleh perusahaan ‘She’, minuman berenergi di Belanda. Sebuah pencapaian fantastik mengingat dunia fotografi baru digelutinya setahun belakangan.

Lie menggeluti bidang make-up artist dan hairstylist dengan mengikuti sekolah di Belanda. Sejumlah penghargaan diraihnya seperti visagist (perias wajah) terbaik Belanda 2010, penghaargaan Make-Up Awards Belanda 2010, dan lain-lain.

Sebagai pendatang baru dalam dunia make up artist dan hairstylist, baik dalam arti sebenarnya maupun dari sisi latar belakangnya, Lie harus bekerja ekstra keras untuk bisa memasuki dunia ini.

“Awalnya susah banget. Mereka lihat bahwa kita orang Asia. Mereka pikir ‘Bisa apa nih anak.’ Tapi setelah Lie pegang dan mereka lihat hasilnya. Muka mereka langsung berubah dan memberi senyum termanis,” kata Lie mengenang pengalamannya dulu.

Antara make-up artist dan fotografi memang dua profesi ‘bertetangga’. Di samping itu, Lie masih bekerja di sebuah butik terkenal di Amsterdam. Walau menyita waktu, semua kegiatan dilakukan dengan senang.  “Di sanalah hati saya,” kata ibu dari kedua putri.

Begitupun  ketika merintis karir baru di fotografi banyak jaln berliku harus dilaluinya. Untuk masuk dan bersaing dengan para fotografer Belanda sendiri, cukup susah awalnya. “Karena walau bagaimanapun mereka akan mengutamakan orang Belanda lebih dulu. Tapi saya tidak keder atau takut karena saya tahu kemampuan saya,” katanya.

Meski sadar dirinya adalah pendatang, namun dia tidak mau kalah dari orang asli Belanda karena menurutnya tiap orang memiliki potensi masing-masing.

Sesudah menunjukkan kebolehan, justru perusahaan minuman berenergi ‘She’ yang mempromosikannya ke salah satu perusahaan pakaian dalam. Mereka merekomendasikan jasa Lie karena merasa puas dengan hasil jepretannya.

Untuk menarik pelanggan, Lie tak segan-segan memberi diskon atau bahkan menawarkan jasanya secara gratis untuk perkenalan. “Ini trik untuk masuk saja. Yang penting masuk dan networking dulu. Sesudah dikenal, kita bisa pasang harga,” Lie buka kartu kita suskesnya.LI-07