Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
AKTIVIS

Sesepuh Ponorogo: Kenapa Rakyat Mau Ketemu Presiden kok Dilarang? 

LENSAINDONESIA.COM: Keputusan rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menghindar dari aksi masa PMII Ponorogo, saat dalam perjalanan menuju Pacitan melintasi Ponorogo, Kamis (12/1) kemarin, disesalkan warga Ponorogo. Presiden dinilai tidak memberikan kesempatan rakyatnya untuk bersuara.

Kekecewaan itu salah satunya datang dari  aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ditumpahkan dengan melakukan aksi kembali. Namun belum sempat keluar dari kantor cabang yang berada di Jalan Batoro Katong, Kelurahan Magunsuman, Kecamatan Siman,para mahasiswa sudah diamankan aparat kepolisian sudah yang sudah memblokade dengan tapal kuda,agar para mahasiswa tidak bisa keluar.

Lantaran tidak bisa keluar, para aktivis menjadi emosi dan terus mencoba untuk bisa menembus Barikade Polisi. Akibat hal tersebut mahasiswa dan polisi terjadi aksi saling dorong.

Dari pantauan LICOM, selain terjadi aksi saling dorong juga terjadi aksi saling pukul antara mahasiswa dan aparat. Hal ini dikarenakan para aktivis tidak diperkenankan turun ke jalan guna menyuarakan aspirasinya, sehingga membuat suasana semakin memanas.

Sekalipun antara ketua PMII dengan aparat terus melakukan negosiasai namun dari pukul 14.00 sampai menjelang magrib tidak ada titik temu. Mereka (aktivis) yang kalah jumlah tetap tidak diperbolehkan keluar dari kantor cabang, sehingga mahasiswa terus memberikan hujatan pada Polisi.

Dalam kondisi hujan deras dan situasi yang semakin memanas tersebut, mahasiswa terus berusaha merangsek untuk menembus brikade polisi yag super ketat, namun usahanya tetap sia-sia.

Awalnya para aktivis dijanjikan untuk ditemui Kapolres, namun hingga rombongan SBY meninggalkan Ponorogo, kapolres tidak kunjung datang. Ini membuat aktivis geram dan merasa dibohongi.

Dalam suasana yang makin tak terkendali tersebut tiba-tiba salah satu dari aktivis sempat mendapatkan pukulan dari aparat, alhasil terjadilah aksi kejar-kejaran.

Baca Juga:  Bau sampah Stadion GBT sampai di Senayan, Menpora diultimatum

Di tengah-tengah aksinya,Muhamad Junaidi, Ketua PMII cabang Ponorogo sempat menyampaikan pesann di depan wartawan. “Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi rakyat, dan kami jamin tidak akan terjadi tindakan anarkis. Akan tetapi jika kami tetap dilarang, siapa yang mau menjamin nasib rakyat akan berubah yang selama ini masih menderita,” tegasnya.

Sementara Mbah Wage, salah satu tokoh sepuh Ponorogo, mengatakan, seharusnya SBY tidak perlu takut menemui rakyatnya.

”Kenapa rakyat mau ketemu presiden untuk melaporkan kondisi Ponorogo tidak boleh? Kebetulan kan Presiden lewat sini. Harusnya masyarakat diberi kesempatan ngomong biar dia tahu Ponorogo saat ini,” kata Koordinator Forum Komunikasi Rakyat (FKR) 2000 itu dalam bahasa Jawa, Jumat (13/1).

Masyarakat Ponorogo yang diwakili PMII sebenarnya punya niat baik mau bertemu Presiden. Menurut Mbah Wage, tidak ada tendensi negatif dalam upaya tersebut.

Masyarakat  hanya ingin melaporkan kondisi Ponorogo yang sebenarnya saat ini, dimana wilayah tersebut dilanda banyak permasalahan yang belum bisa diatasi oleh pemerintah daerah.

”Masyarakat sebetulnya hanya ingin melaporkan Ponorogo apa adanya kepada pimpinan negara ini. Dengan begitu, kan kelihatan bobroknya Ponorogo,” imbuh Mbah Wage.

Mbah Wage juga merasa ada penyesalan karena keliru memilih pemimpin. Karena, menurut dia, pemimpin Ponorogo yang baru ini bukannya menyelesaikan persoalan daerah, tapi malah menambah masalah. Dan PMII yang kebetulan aktif mendorong pembangunan Ponorogo hanya ingin mengadu pada Presiden, agar masalah di BumiReog ini bisa diatasi.arso