LENSAINDONESIA.COM: Pra Kongres PSSI-KPSI yang digelar di Ballroom Swissbel Hotel, Sabtu (21/1) di Jakarta, diwarnai oleh hujan interupsi dari para peserta. Bahkan, sidang terpaksa diskors selama kurang dari setengah jam akibat kondisi dan situasi yang sulit terkendali.

Sidang yang diketuai oleh ketua KPSI, Toni Apriliani memutuskan untuk manifesto PSSI baru yang lebih baik dan profesional. Selain juga memutuskan Ketua Komite Pemilihan dan Ketua Banding Pemilihan.

Sidang juga memutuskan bahwa PT Liga Super sebagai pengelola resmi kompetisi, serta untuk menegaskan agar pihak-pihak ketiga untuk tidak ikut campur dalam urusn kompetisi profesional.

”Komite Pemilihan diketuai M. Abror (Jawa Timur), Muhdar (Kalimantan, Balikpapan), Jimmy Napitupulu (wasit), La Siya (Persipura Jayapura), Idris (PSMS), TB Kun Adi (Jawa Barat), Didik Darmadi (unsur pemain).”

”Komite Banding Pemilihan diketuai Ahmad Riyadh (Jawa Timur), M. Amin, Rully Nere, Johar Lin Eng (Jawa Tengah), Hendri Zainuddin (Sriwijaya FC), Purwanto (wasit), Umuh Muchtar (Persib Bandung), Kadir Halid (Sulawesi), dan Dwi Irianto (Yogyakarta),” ujar Sekjen KPSI Hanca Panjaitan, di Hotel Swiss Bel, Jakarta, Sabtu (21/1/2012).

Namun keputusan tersebut sempat menimbulkan kisruh dalam sidang yang memaksa ketua sidang untuk mengskors sementara. Hal ini dipicu karena sebagian anggota yang datang tak bisa menempatkan wakilnya untuk duduk dalam komite tersebut.

“Kita sudah memasuki era demokrasi, sehingga keputusan jangan sepihak kalau bisa dikembalikan lagi kepada anggota agar semuanya bisa diterima dengan baik,” jelas Andi Pala.

Nah, kejadian ini yang membuat gaduh suasana Kongres. Namun demikian, semuanya bisa disikapi dengan baik, hingga ketua sidang bisa melanjutkannya kembali.

“Alhamdulillah meski pun sempat kita skor sementara, namun dari serangkaian acara bisa berlangsung dengan baik. Pra Kongres kali ini dihadiri lebih dari 2/3 anggota yang hadir. Setidaknya 542 anggota klub dan Pengprov ikut dalam Pra Kongres malam ini,” ungkap Toni. @LI11