LENSAINDONESIA.COM: Tingginya suku bunga kredit perbankan yang berlaku di Jatim dinilai sangat tidak rasional. Di level suku bunga acuan BI Rate, suku bunga sebesar 6%, sementara bunga kredit di Jatim masih di kisaran 12%sampai 15%.

Gubernur Jatim, Soekarwo menilai, ketentuan perbankan Jatim mengambil keuntungan bunga (interest margin) terlalu besar. Salah satu penyebabnya karena pihak perbankan terlalu tinggi memberikan gaji kepada direksi sehingga tidak bisa melakukan efisiensi.

“Gaji direksi bank sangat tinggi, sehingga uangnya habis digunakan untuk pembiayaan rutin, terutama untuk membayar gaji direksi. Mereka lupa kalau itu bisa menghambat penurunan kredit untuk menggerakkan sektor riil,” terang Soekarwo.

Dalam upaya menstabilkan perekonomian di Jatim ini, Ia menganjurkan agar perbankan menentukan suku bunga kredit maksimal 11%. Sebab, tingginya suku bunga ini dianggap berdampak besar pada dunia usaha.

Dalam kesempatan ini, Soekaro berjanji akan terus mendorong linkage program antara Bank Jatim dan BPR. Ini diperkuat dengan terpilihnya Bank Jatim menjadi bank jangkar bagi BPR di seluruh Jatim. Dalam linkage program ini, uang yang dilepas Bank Jatim ke BPR hanya dikenakan bunga maksimal 9 hingga 10 persen agar BPR dapat menyalurkan ke UMKM di kisaran yang tak terlalu tinggi.

“Keuntungan bank sekarang terlalu tinggi, tapi dunia usahanya yang susah. Kalau dilepas di level 9%, maka suku bunga BPR tidak akan sebesar sekarang yang mencapai 33%. Keuntungan BPR jangan terlalu tinggi. Katakanlah kalau dari Bak Jatim 10%, maka BPR bisa jual 20%. Untuk meminimalisasi biaya operasional perbankan, saya sarankan menagihnya jangan harian, tapi mingguan,” katanya.panji