Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
EDUKASI

Mencontek, Tindakan Lancung 

Oleh: Marcus L Supama
Katekis, tinggal di Bekasi

LENSAINDONESIA.COM: Terjadinya kecurangan pada saat ujian di SD Negeri Gadel II Surabaya, menjadi tamparan bagi wajah dunia pendidikan kita. Yang lebih parah, kecurangan ini memang direncanakan secara sistematis. Kecurangan itu melibatkan wali kelas. Dengan dalih membayar hutang budi, oknum guru itu yang memaksa Al, siswa berprestasi di kelas tersebut, untuk menyalin jawaban ujian dan mengedarkan jawaban miliknya ke seluruh kelas 6A dan kelas 6B.

Guru kelas telah merancang kecurangan itu secara rapi. Kertas buram berisi jawaban Al disalin oleh teman di bangku belakang di kertas buram lainnya. Kemudian, lembar jawaban tersebut diserahkan ke siswa lain kelas di dalam toilet sekolah atau di depan pot bunga.

Kita pasti sependapat, setiap orang bebas untuk berprestasi. Namun, umumnya kita tidak setuju jika prestasi itu dicapai dengan cara lancung (tidak jujur, tidak fair). Setiap murid bebas untuk mendapatkan nilai A. Namun, umumnya siapa pun tidak setuju jika nilai A itu didapat dengan cara mencontek. Pendapat ini sangat beralasan. Mencontek adalah melakukan ketidakjujuran atau tidak fair dalam rangka memenangkan atau meraih keuntungan (Eric M Anderman dan Tamera B Murdock). Dengan mengacu pada pendapat tersebut, maka mencontek dianggap sebagai perbuatan yang tidak terpuji.

Sering digambarkan bahwa pendidikan kita tidak hanya mengasah kemampuan otak (kognitif) saja, tetapi juga mengasah sikap maupun ketrampilan murid. Untuk mengasah kemampuan sikap (afektif) maka di sekolah ada pendidikan budi pekerti, religiositas, atau agama. Dengan pendidikan seperti ini diharapkan murid mampu bersikap sesuai dengan tata nilai yang dihayati bersama: jujur, mandiri, bekerja keras, menghargai proses untuk mencapai hasil, kerjasama, takwa, tahu membalas budi, kritis, dll. Dengan menghayati tata nilai seperti ini, muridpun mampu membedakan dan mampu memilih sikap sesuai tata nilai tersebut.

Tindakan mencontek yang terjadi di SD Negeri Gadel II, Surabaya sangat memprihatinkan karena justru oknum guru kelasnya mendukung, mengarahkan, dan memfasilitasi tindakan mencontek tersebut. Tindakan oknum guru itu menjadi contoh guru yang tidak lagi menjadi panutan dalam bertingkah laku sesuai norma yang dijunjung oleh masyarakat. Jika sikap dan perilaku guru tidak dibenahi, tidak mustahil, kredibilitas pendidikan kita akan menurun. “Terus terang, sebagai orang tua, saya menjadi ragu-ragu, dan sulit percaya pada lembaga pendidikan sekolah seperti itu. Saya enggan menyekolahkan anak saya di sekolah seperti itu.Mau menjadi seperti apa anak saya kelak jika sikap-sikap tidak jujur dibiarkan berkembang dalam diri saya”.

Baca Juga:  Polres Tulungagung tangkap pelaku penyerangan rombongan Banser

Rasa-rasanya kita sudah muak dengan tayangan-tayangan media elektronik dan berita-berita di surat kabar. Dari hari ke hari, selalu muncul ulasan-ulasan tentang tindak korupsi. Korupsi, yang sering dipahami sebagai perilaku, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka, seperti menjadi hal yang sudah biasa terjadi dan dilakukan oleh pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri.

Tayangan dan berita itu membuat kita ngeri, betapa bobrok dan rusak negeri ini karena diurus oleh pejabat-pejabat korup.Kita pun sering dibuat penasaran, mengapa korupsi begitu mengurat dan mengakar di negeri ini. Mencermati tindakan curang yang terjadi di sekolah SD Gadel II, Surabaya kita seolah menemukan jawabannya. Dengan mengelus dada lagi kita menjadi maklum, “lha wong sejak kecil sudah dibiasakan melakukan tindakan curang”. Tiadanya sikap kritis terhadap tindakan mencontek, dan bahkan membiarkan, akan membentuk keyakinan seseorang bahwa mencontek dan berbuat curang lain dianggap wajar. Wajarlah jika kemudian orang tidak kritis terhadap tindakan koruptif bahkan tanpa merasa bersalah ia ambil bagian dalam perbuatan koruptif tersebut.

Harus dilawan
Hal yang aneh juga kita rasakan saat kita mencermati perlakukan sekolah, instansi dinas dinas pendidikan, dan masyarakat terhadap ibunda Al, Ny. Siami. Salahkah Ny. Siami yang melaporkan oknum guru kelas anaknya yang nyata-nyata telah merencanakan tindakan curang pada saat ujian? Secara nalar akal sehat, Ny. Siami harus diacungi jempol. Tapi inilah yang terjadi pada Ny. Siami. Buntut dari pelaporan itu, Ny. Siami harus mengungsi ke rumah orang tuanya di Dusun Lumpang, Desa Sedapur Klagen, Kecamatan Gadel, Kabupaten Gresik.

Ancaman bukan hanya dilakukan oleh pihak sekolah. Ia bahkan tidak mendapat perlindungan dari instansi pendidikan yang lebih tinggi. “Ibu, siap jika dituntut balik wali kelas lain,” kata Siami menirukan Eko Prasetyoningsih, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Surabaya.

Baca Juga:  Ketua KSP Nasari: "Dekopin perlu direvitalisasi agar sesuai UUD 45!"

Siapakah Ny. Siami? Sebelum kejadian di atas, mungkin banyak orang tidak mengenal dia. Dia hanyalah seorang ibu dengan satu anaknya bernama Al. Ia bukanlah orang kaya bergelimang harta.

Kondisi bersahaja itu terlihat dari lantai semen dan dinding papan di dalam rumah seluas 100 meter persegi miliknya, hanya lemari dan meja kursi yang menjadi perabot rumahnya. Walaupun orang sederhana tetapi Ny. Siami adalah orang yang memiliki integritas. Orang yang memiliki integritas digambarkan sebagai orang yang konsisten antara apa yang dikatakan dengan tindakan yang dilakukan. Kata-katanya tidak mencla-mencle. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang jujur pada dirinya sendiri maupun jujur kepada orang lain. Orang yang punya integritas juga cenderung melawan arus, jika menurut dia, lingkungan menghayati nilai-nilai yang bertentangan dengan keyakinannya. Orang yang memiliki integritas tidak mengutamakan kepentingannya sendiri. Baginya, kebenaran harus dijunjung tinggi. Orang yang memiliki integritas biasanya juga orang yang jujur.

Ia merasa ringan untuk menyatakan sesuatu secara jujur karena ia tidak merasa diikat oleh kepentingannya sendiri. Sikap Ibu Siami cocok dengan nasehat Spencer Johnson, “Integritas adalah memberitahu diriku sendiri kebenaran. Dan kejujuran adalah mengatakan kebenaran kepada orang lain. ” Integritas Ny. Siami terbukti dengan keberaniannya melaporkan kecurangan yang terjadi di kelas anaknya Al ketika ujian.

Namun, kejujurannya bak berbenturan dengan tembok. Alih-alih memberi respon positif terhadap laporan ini, pejabat dinas pendidikan justru menyudutkan Ny. Siami jika melaporkan tidak dengan bukti. Bahkan kesalahan justru ditimpakan pada Al yang memberikan contekan kepada teman-temannya. Tidak hanya sampai di sini tekanan pada Ny. Siami. Dia ibarat seorang pesakitan. Diberitakan, ancaman juga datang dari warga di sekitar tempat tinggalnya. Ia mengaku takut dan terusir dari rumahnya setelah warga setempat berunjuk rasa mengecam dirinya yang membongkar contek massal tersebut.

Pengalaman yang menimpa Ny. Siami menegaskan situasi masyarakat kita yang paradoks. Masyarakat kita sering digambarkan sebagai masyarakat yang taat beribadah. Nyatanya, berhadapan dengan orang yang kritis, dan jujur justru mereka menolak. Ini berarti ketaatan dalam menjalankan ritual peribadatan, belum menjamin orang itu menjalankan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama yang dianutnya dalam kehidupan bermasyarakat. Keimanan masih jatuh pada sekitar ritual dan belum menyentuh perbaikan akhlak masyarakat. Tetapi barangkali mereka sendiri menjadi korban media informasi yang menampilkan tindak korup dan perilaku tidak jujur tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal. Mereka korban dari citra koruptor yang dibentuk oleh media, bahwa perilaku korup itu biasa, banyak orang melakukan dan tidak membahayakan karena tidak dihukum, koruptor tetap hidup enak dipenjara, dsb.

Baca Juga:  Sekolah asal Batu-Malang ini lantang berbicara di depan UNESCO, ada apa?

Benahi Cara Mendidik

Kejadian mencontek, yang mendorong Ny. Siami melapor dan berbuntut dirinya harus mengungsi tidak akan terjadi jika sekolah benar-benar menerapkan kurikulum berbasis kompetensi murid. Namun penerapan kurikulum ini harus didukung dua hal.

Pertama, penerimaan murid di sekolah-sekolah dilakukan secara bersama-sama. Sekarang ini sekolah-sekolah favorit cenderung membuka pendaftaran lebih dulu. Akibatnya ada sekolah, terutama sekolah negeri, tinggal mendapat sisa-sisanya.

Kedua, mentalitas dan kemampuan guru dalam mengajar. Sering dikeluhkan bahwa meningkatnya kesejahteraan guru ternyata sering tidak diiringi dengan semangat mengajar dan kemauan untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya.

Dua hal itu tampaknya menjadi kendala ketika pemerintah menerapkan ujian nasional. Terbatasnya kemampuan murid dan rendahnya kinerja guru, mendorong tindakan-tindakan tak jujur seperti mencontek ini.

Terbongkarnya kasus mencontek massal ini tampaknya perlu disikapi secara arif. Tayangan dari media-media mengenai bentuk tindakan tidak jujur secara bertubi-tubi, tidak meretas perbuatan tidak jujur. Justru, tidak mustahil tayangan-tayangan itu akan menjadi peneguhan bahwa tindakan-tindakan itu biasa dan wajar terjadi. Tidak mustahil sikap dan perbuatan yang dulu dianggap salah lama-lama dianggap sebagai benar.

Dalam suasana seperti, reinforcemen terhadap tindakan yang positif perlu dilakukan. Saat ini, mungkin tindakan guru atau orang tua memuji perilaku yang positif yang dilakukan anak sangat jarang karena kita menganggap perilaku itu sudah dengan sendirinya harus dilakukan. Sikap-sikap ksatria yang ditampakkan orang-orang semacam Ny. Siami perlu juga ditayangkan secara gencar sebagaimana media menayangkan tokoh-tokoh yang terlibat korupsi. Orang-orang seperti Ny. Siami juga perlu diapresiasi secara positif sehingga menginspirasi banyak orang untuk bersikap berani menghadapi kenyataan masyarakat kita. *ian