LENSAINDONESIA.COM: Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz menyatakan kebijakan penurunan suku bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)menjadi 6 – 7 % akan meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat terhadap perumahan sebesar 10 %. Untuk itu, Kementerian Perumahan Rakyat berharap pelaksanaan penandatangan Perjanjian Kerjasama Operasional (PKO) dengan perbankan dapat segera dilaksanakan pekan depan.

“Adanya kebijakan penurunan suku bunga FLPP akan meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat terhadap perumahan sebesar 10 %,” ujar Menpera Djan Faridz saat melakukan Rapat Kerja dengan Komisi V DPR terkait pembahasan pelaksanaan kebijakan FLPP di Senayan, Jakarta, Selasa (31/1).

Selain itu, adanya kebijakan penurunan porsi dana FLPP juga akan memperbanyak jumlah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang mendapat fasilitas KPR FLPP yakni sebesar 23% yaitu 177.800 unit menjadi 219.000 unit.

“Kami akan mengupayakan agar penandatanganan PKO antara Kemenpera dan perbankan bisa dilaksanakan pekan pertama bulan Februari,” katanya.

Djan Faridz mengungkapkan, saat ini Kemenpera terus bekerja keras untuk melakukan negosiasi dengan pihak perbankan untuk menurunkan suku bunga FLPP. Apabila saat ini suku bunga FLPP berkisar antara 8,15 persen sampai dengan 9 persen, maka Kemenpera ke depan akan mengupayakan angka tersebut turun menjadi 6 sampai 7 persen.

Lebih lanjut, Djan Fariz menuturkan, berdasarkan perhitungan suku bunga KPR FLPP tahun 2010 – 2011 porsi dana pemerintah sebesar 61,70 persen. Sedangkan sisanya yakni 38,30 persen dari dana bank. Dari penggabungan porsi dana bank dan pemerintah serta perhitungan suku bunga seperti biaya dana, giro wajib minimum, biaya overhead, biaya risiko, profit dan suku bunga dasar diperoleh suku bunga gabungan sebesar 8,15 persen.

Kemenpera, imbuh Djan Faridz, mengakui PKO penyaluran KPR FLPP Tahun 2011 dengan bank pelaksana telah berakhir pada tanggal 31 Desember 2011 lalu. Untuk itu, bank pelaksana diminta menyampaikan proposal suku bunga baru KPR dan jumlah unit KPR yang akan disalurkan pada tahun 2012 dengan mempertimbangkan adanya suku bunga SBI sejak tahun 2008.

Suku bunga SBI tahun 2008 hingga 2012 terus mengalami penurunan dari 10,33 persen manjadi 5 persen. Tentunya jika suku bunga SBI turun perlu diikuti penurunan suku bunga FLPP turun.

“Apabila suku bunga FLPP bisa turun akan membantu masyarakat berpenghasilan rendah untuk membeli rumah. Sebab cicilan rumahnya akan semakin murah dan suku bunganya tetap selama 15 tahun,” katanya.

Berdasarkan hasil pembahasan sementara, imbuh Djan Faridz, setidaknya sudah ada empat bank BUMN yakni Bank BTN, BRI, BNI dan Mandiri yang akan ikut dalam penyaluran FLPP.  Dari hasil pembahasan tersebut suku bunga sementara yang ditawarkan Bank BTN 8,55%, BRI 7,5%, BNI 7,25% sedangkan Mandiri masih dalam proses. Adapun perbandingan porsi dana antara Kemenpera dan bank adalah 50:50.

Djan Faridz menambahkan, untuk menurunkan suku bunga FLPP Kemenpera juga melibatkan pihak asuransi KPR. Hal itu dilakukan untuk mengurangi beberapa biaya yang ditanggung oleh debitur atau masyarakat yakni asuransi jiwa dan asuransi kebakaran.

“Bila melibatkan asuransi KPR maka suku bunga sementara yang ditawarkan Bank BTN turun menjadi 8,22%, BRI 7,12%, BNI 6,35%, Mandiri masih dalam proses. Jika harga rumah sekitar Rp 70 juta, uang muka 10 % KPR Rp 63 juta dan jangka waktu 15 tahun maka angsuran KPR hanya berkisar Rp 552.984 sampai Rp 621.619,” terangnya.ari