LENSAINDONESIA.COM: Akhirnya majelis hakim yang diketuai Unggul Ahmadi menjatuhkan putusan vonis bebas murni terhadap terdakwa Gunawan Suhartono, (56), Bos PT Rimba Sempana Indonesia (RSI), warga Diponegoro Probolinggo pada sidang lanjutan perkara dugaan ileggal logging, Selasa (7/2).

Menurut majelis hakim, terdakwa tidak terbukti melanggar pasal 50 ayat (3) huruf f jo. Pasal 78 ayat (5) Undang-undang nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan jo pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP seperti dakwaan yang diterapkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Fadillah dari Kejari Tanjung Perak Surabaya.

Putusan majelis hakim tersebut banyak berpacu pada surat perjanjian jual beli yang dibuat antara pihak PT RSI dangan PT Ratulanggi selaku penjual.

“Dalam surat perjanjian terdapat klausul yang menyebutkan bahwa harga yang disepakati sudah termasuk bea kelengkapan dokumentasi yang sah. Dan apabila ada permasalahan terkait keabsahan dokumentasi merupakan diluar tanggung jawab pembeli,” terang Unggul saat membacakan berkas putusan.

Atas vonis tersebut, JPU Fadillah dengan tegas mengatakan bakal melakukan upaya kasasi. “Kita hormati putusan majelis hakim, kita juga bakal melakukan upaya hukum atas putusan tersebut yaitu Kasasi,” terang Fadillah sesaat mengikuti sidang.

Berbeda dengan statement yang dikeluarkan Gedijanto SH, MH, CD, penasehat hukum terdakwa. Ia mengatakan bahwa upaya kasasi yang bakal dilakukan JPU tersebut kurang tepat.

“Majelis hakim telah memutus bebas murni, jadi gak ada lagi upaya-upaya yang bisa dilakukan lagi oleh tim JPU,” terang advokat yang kerap dipanggil Gede tersebut.

Sedangkan, putusan vonis majelis hakim tersbut disambut sukacita oleh Gunawan.

“Awal kata saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan YME, ternyata hukum negara ini masih bisa diandalkan,” kata Gunawan sambil mengeluarkan airmata kebahagiaan sesaat mengikuti sidang.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, tim JPU menuntut terdakwa dengan hukuman 10 bulan penjara. Perkara ini berawal dari perjanjian jual beli kayu jenis Pulai antara PT RSI dengan PT Ratulanggi.

Belum sempat kayu pesanan tersebut sampai di tempat yang ditentukan, kiriman kayu sebanyak 8 kontainer itu disita oleh pihak KPPP Tanjung Perak Surabaya. Beberapa orang ditetapkan tersangka oleh pihak kepolisian, diantaranya Gunawan.*bambang