LENSAINDONESIA.COM: Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar aksi di depan Gedung Rektorat Unesa, Kamis (16/2/2012). Mereka menuntut pencabutan kebijakan sanksi keterlambatan pembayaran registrasi bagi mahasiswa.

Pasalnya, mahasiswa yang belum membayar SPP kuliah semester genap, diminta untuk mengundurkan diri, bahkan diancam terkena drop out (DO).

Menurut salah seorang mahasiswa, Aria, permasalahan itu diketahui ketika empat mahasiswa yang sempat mengirimkankan surat dispensasi pembayaran registrasi kepada Rektor Unesa. “Bukan memberi keringanan, tapi pihak rektorat malah menyodorkan surat agar mengundurkan diri. Saya yakin tidak hanya empat mahasiswa saja dan kabarnya sudah ada yang mengundurkan diri,” ujarnya.

Bahkan, dalam aksi itu sempat terjadi saling dorong antara mahasiswa dengan pihak keamanan kampus ketika mahasiswa ingin memasuki gedung rektorat. Namun, keributan kembali reda setelah Pembantu Rektor I bidang Akademik Unesa, Kisyani Laksono bersedia menemui mereka dan bersedia berdialog secara terbuka.

“Kebijakan ini sudah tertuang dalam buku pedoman akademik dan harus ditaati. Sosialisasi tentang kebijakan ini sudah disampaikan kepada semua Dekan, Ketua Jurusan bahkan melalui spanduk di titik-titik strategis kampus agar semua elemen kampus dapat memahami,” kata Kisyani kepada mahasiswa.

“Kita akan proses, asalkan mahasiswa tersebut memiliki komitmen menegakkan aturan yang dibuat dalam pedoman akademik,” tegas Kisyani.

Namun, mahasiswa seakan belum puas dengan jawaban dari Kisyani. Mahasiswa tetap mendesak agar pihak rektorat mencabut kebijakan yang dinilai merugikan mahasiswa itu.

“Jika kebijakan ini tidak dicabut, kami akan mengirim surat ke Mendikbud dan jika belum direspon juga, kami akan memperkarakan masalah ini ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN),” kata salah satu mahasiswa dalam orasinya. *ian