LENSAINDONESIA.COM: Tak ada potong tumpeng atau acara resmi, padahal yang dilakukan oleh Balai Seni Sekar Pakuan (BSSK) Kota Bogor dengan penerbit PT Inti Getar Pakuan (IGP) adalah sebuah kejadian yang lumayan besar.

Acara tersebut berupa penandatanganan kerjasama penerbitan buku “Bogor dari Periode ke Periode”, karya R Hilman Hapid, penulis yang juga Pimpinan BSSK dengan HR Herry S Hermawan, Direktur Utama PT Inti Getar Pakuan, penerbit asal Jakarta, di Rumah Makan Gurih 7, Jl Pajajaran, Kota Bogor.

Dalam kerajasama tersebut kedua belah pihak sepakat untuk menerbitkan buku “Bogor dari Periode ke Periode”, karya R Hilman Hapid paling lambat April mendatang.

Menurut Hilman, buku tersebut tebalnya sekitar 750 halaman. Isinya, menceritkan keadaan Bogor sejak abad pertama, masa Kerajaan Salakanagara hingga masa Walikota Diani Budiarto dan Bupati Rachmat Yasin tahun 2011.

“Buku ini saya susun selam 3 bulan dan Insya Allah terbit pada bulan April yang akan datang,” ungkap Hilman.

Sementara, Direktur Utama PT IGP, Herry, menyatakan ketertarikannya menerbitkan buku tersebut selain latar belakang orang tuanya berasal dari Bogor, juga karena isi buku tersebut sangat menarik dan berguna bagi masyarakat Bogor, khususnya kalangan generasi muda dan para pelajar.

“Materi buku tersebut menurut saya sangat diperlukan pada masa sekarang ini untuk mengingatkan para remaja Bogor akan jati dirinya. Dengan membawa buku ini, orang Bogor yang tinggal di Bogor dan di luar Bogor dapat mengingatkan kembali ingatannya terhadap kota tercintanya,” jelasnya.

Paling tidak, mereka mengetahui perjalanan sejarah Bogor sejak awal hingga saat ini. Ia optimis, buku tersebut akan diterima masyarakat Bogor, sekalipun saat ini informasi dunia maya mengenai sejarah Bogor mudah diakses di internet.

“Untuk sementara buku tersebut akan dipasarkan ke dunia pendidikan dan para pejabat, serta tokoh-tokoh Bogor,” imbuhnya.

Sedangkan, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Firdaus, yang turut menyaksikan penandatanganan kerjasama tersebut merasa bangga dengan apa yang telah dibuat di Balai Seni Sekar Pakuan.

Menurutnya, selama ini yang namanya sanggar sangat identik dengan seni tari, bukan dengan penerbitan buku. Dia berharap, dengan penerbitan buku tersebut dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi masyarakat Bogor. Sebab, sekalipun banyak buku yang diterbitkan, masing-masing buku mempunyai sisi lain yang menarik.

“Saya pribadi sangat mendukung adanya penerbitan buku ini, dan berharap kedepannya bisa lebih dikembangkan, misalnya saja memuat tentang pariwisata Kota Bogor yang sangat kaya dengan potensi obyek pariwisata khususnya situs dan peninggalan jaman dahulu,” tegasnya.

Turut hadir dalam acara itu, Budayawan Bogor, Eman Soelaeman dan sejumlah tokoh lainnya. *umar