Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    

Ini Dia Kronologis Kasus Korupsi Mantan Bupati Jembrana 

LENSAINDONESIA.COM: Seorang Pengajar Pusdiklat Kejaksaan Agung Adnan Pasliadji menjelaskan kronologis perkara mantan Bupati Jembrana. Menurutnya, kasus ini bermula dari keinginan I Gede Winasa selaku Bupati Jumbrana untuk meningkatkan pertanian, salah satu gagasannnya adalah mengadakan pupuk organik, oleh karena itu diperlukan mesin pengolah sampah menjadi pupuk kompos.

“Gagasan itu kemudian disampikan kepada Kazuyu Tsurami selaku Direktur PT Yuasa Sangyo. Co. Ltd Jepang,” terang Adnan Pasliadji pada LICOM di Hotel Sofyan Betawi Jakarta, Senin (27/02).

Lanjut cerita, ujar Adnan, I Gede Winasa memerintahkan membuat Memorandum of Understanding (MOU) dan Surat Perjanjian Pengadaan Mesin Pengolahan Sampah Organik menjadi Kompos antar dua pihak yakni, Direktur Perusahaan Daerah dengan Presiden Direktur Yuasa Sangyo Co. Ltd Jepang Kasuyu Tsurumu.

Selanjutnya, lanjut Adnan, terjadilah penandatanganan MOU No: 47/PD/II/2006 No 01/YS/II/2006, tanggal 6 Februari 2006 antara Perusahaan Daerah yang diwakili I Gusti Ketut Mulyarta dengan Yuasa Sangyo Co. Ltd Jepang diwakili Kasuyu Tsurumu.

Kemudian, lanjut Adnan, MOU ini ditindaklanjuti dengan Surat Perjanjian Pengadaan Mesin Pengolah Sampah Organis menjadi Kompos No 55/PD/I/2006 No 02/YS/I/2006 tanggal 8 Februari 2006 antara Perusahaan Daerah diwakili I Gusti Ketut Mulyarta dengan Yuasa Sangyo Co. Ltd Jepang diwakili Kasuyu Tsurumi.

Dalam dakwaan yang disusun oleh Jaksa Penuntut Umum, lanjut Adnan, disebutkan terdakwa I Gede Winasa pada waktu-waktu setidaknya antara tahun 2004 – 2008 selaku penyelenggara negara Kabupaten Jembrana, telah menerima hadiah dari Kayuzuki Tsurumi sejumlah Rp.1.040.590.000,- padahal patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya sebagai Bupati Jembrana, sehingga tampak iktikad tidak baik Kayuzu Tsurumi untuk mengelambungkan harga mesin pengolah sampah menjadi Rp.3.930.687.635,- padahal harga riil Rp.1.901.223.008,62,-, sehingga Kayuzuki Tsurumi mendapat keuntungan sejumlah Rp.2.029.455.626,038,-.

“Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi yaitu melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 ayat (1) UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo UU No 20 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” terang Adnan.

Tapi, kata Adnan, dalam putusan pengadilan tanggal 1 Juli 2011, menyatakan dakwaan terhadap terdakwa I Gede Winasa tidak terbukti secara sah dan menyakinkan baik Dakwaan Primair dan Dakwaan Subsidair serta membebaskan terdakwa dari seluruh dakwaan yang didakwakan.

“Secara umum pertimbangan majelis hakim dalam putusan ini kurang sistematis dan membingungkan karena kurang disusun secara kronologis, pertimbangan hukum yang bertele-tele dan justru mengaburkan beberapa fakta hukum penting yang seharusnya dielaborasi dalam persidangan,” kata Adnan.

Senada dengan itu, seorang akademisi yang menjadi partnert ICW dalam menangani kasus ini Asep Iwan Iriawan mengatakan, majelis hakim sama sekali tidak mempertimbangkan fakta-fakta yang ditemukan oleh saksi ahli dari perwakilan  BPKP Bali Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), terkait adanya dokumen-dokumen kontrak mereka (PT Yuasa Sangyo, PT Sankyu Indonesia dan PT Sanshine Jepang) yang menunjukkan harga mesin sebenarnya sampai terpasang dan siap beroperasi adalah Rp.1.901.233.008,62.

“Ditemukan adanya selisih kelebihan sejumlah Rp.2.029.455.626,38 (Rp.3.930.678.635,- dikurangi Rp.1.901.233.008,62) yang menguntungkan PT Yuasa Sankyu Indonesia yang kemudian diketahui adanya aliran dana yang ditransfer ke rekening terdakwa (I Gede Winasa) Rek BCA Cab Negara No 2360231993 sebesar Rp.853.098.000,-),” terangnya.

Untuk itu, Iwan dan Adnan sependapat dengan ICW, agar MA membatalkan putusan Pengadilan Negeri Negara dan menghukum terdakwa I Gede Winasa mantan Bupati Jembrana karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi. hairul