LENSAINDONESIA.COM: Buku berjudul “Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung” ini merupakan kajian Sebastian Pompe yang dipresentasikan di luar negeri pada 1996. Kajian tersebut hadir dalam buku berbahasa Inggris pada 2005 silam, yang beredar di berbagai negara dan menjadi refrensi utama dalam mengkaji hukum di Indonesia.
Akhirnya, 12 Februari 2012 lalu, Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP) menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Indonesia.

Dalam buku ini bukan hanya memperdebatkan masalah misteri dalam kasus-kasus hukum di Indonesia, namun juga memunculkan ritual mistis sesungguhnya dalam lembaga peradilan tertinggi di Indonesia tersebut. Bahkan, ada perilaku mistis ini dibawa ke dalam rapat dan menjadi dasar pembuat kebijakan.

Peneliti dari Belanda ini mengungkapkannya pada halaman 592 kepercayaan mistis MA berlangsung telah lama. Seperti yang terjadi pada tahun 1965 silam. Yakni, ada hakim agung yang melakukan ritual mistis jelangkung di gedung MA. Disebutkan, ritual itu menggunakan semacam piramida logam diatas meja dengan sebatas pensil yang menggantung pada seutas tali dari pusat piramida. Lalu, seseorang diantaranya mulai kesurupan dan orang-orang pun mulai mengerubung kertas dengan tulisan pensil berupa bulatan-bulatan dan tulisan melingkar-lingkar.

Mistis tidak sebatas jelangkung. Dalam menentukan jumlah hakim, jabatan dan kinerja juga berdasarkan perhitungan irasional. Seperti saat MA di bawah Mudjono yang membagi jumlah hakim dan bidang hakim dengan kualitas mistis, yakni untuk penambahan hakim baru harus menghasilkan seluruh bidang yang berjumlah 17. Angka ini oleh Mudjono dinilai sebagai angka keramat karena pada tanggal tersebut adalah Proklamasi Kemerdekaan RI. Hakim Agung juga dikelompkan menjadi 8 bidang yang juga dinilai sebagai angka keramat bagi Indonesia. Jumlah total hakim agung minus Ketua MA harus 45, tahun kemerdekaan RI. Sementara Pompe menyebutnya sebagai ‘aritmatika mistis’.

Yang lebih mengerikan lagi, mistisme itu berkembang menjadi ancaman bagi staf MA. Pernah seorang Ketua Muda MA pensiun disusul kematian stafnya atau sakit yang tidak tertanggulangi. Anak yang baru lahir dari seorang pegawai mendadak meninggal tanpa sebab apapun. Ada anak pegawai yang lain mati tercekik tali pusar melilit leher. Sudah begitu banyak sekali selain mereka yang sakit parah atau meninggal dunia

Di sisi lain, dijelaskan pula bahwa kedekatan dengan penasehat sipritual juga dilakukan oleh Ketua MA pada waktu lalu. Gara-gara kedekatan ini, Ketua MA tersebut menghadiahi jam mahal dari Swiss untuk penasehat spiritual tersebut. Para hakim agung yang mempercayai mistik mengajak asisten mereka ke kuburan dan gunung berapi, bersemedi dan melakukan hal-hal magis.

Rangkaian fakta dan analisis dalam buku ini tentu akan menjadi bahan perdebatan bagi para pemerhati dan praktisi hukum dan peradilan. *ian