Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Royal Philips Electronic (Philips) mengumumkan kerjasama global
dengan World Association of Sleep Medicine (WASM) dan menjadi sponsor resmi dari World
Sleep Day 2012 yang diperingati di seluruh dunia pada tanggal 16 Maret 2012.

Tema untuk World Sleep Day tahun ini adalah Breathe Easily, Sleep Well (bernafas lancar, tidur nyenyak). Tema ini menunjukkan pentingnya masyarakat untuk mengetahui saat gangguan pernafasan dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang.

Teguh Purwanto, General Manager PT. Philips Indonesia mengatakan berdasarkan analisis Philips Health and Wellbeing Index yang dilakukan tahun 2010 pada 31.000 responden di seluruh dunia, termasuk Indonesia mengenai status kesehatan dan kesejahteraan ditemukan 20 persen dari responden di Indonesia mengakui kesulitan dalam mendapatkan tidur yang nyenyak.

Gangguan tidur ini disebabkan yang utama adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA).

“Kerjasama ini merupakan komitmen Philips untuk semakin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pengaruh kualitas tidur terhadap kesehatan dan kesejahteraan setiap harinya,” ujar Teguh Purwanto kepada LIcom di RS Medistra, Kamis (15/3/2012).

Sementara itu, Dr. Rimawati Tedjasukmana, SpS, RPSGT menjelaskan OSA adalah jenis gangguan tidur yang mempengaruhi pernafasan. Penderita OSA berhenti bernafas secara berkali-kali selama tidur. OSA menjadi serius saat kejadian itu muncul lebih dari lima kali per sejam tidur.

“OSA dapat menyebabkan hipertensi, diabetes, serangan jantung dan stroke. Pasien OSA dua kali lebih besar resiko mendapat stroke atau meninggal dunia dibandingkan tanpa OSA,” kata dr. Rimawati.

Berkaitan dengan World Sleep Day 2012, di wilayah Asia Philips memperkenalkan program dana riset mikro yang merupakan kerjasama dengan organisasi Sleep Society lokal termasuk Sleep and Snoring Clinic RS Medistra untuk meningkatkan riset klinis pada OSA dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang mendalami studi seputar gangguan tidur. Program dana riset mikro ini akan berjalan hingga tahun 2014.

“Kami menyediakan dana 10.000 dolar AS atau Rp 90 juta per tahun,” tegas Teguh.

“Bagi mahasiwa yang ingin mendapatkan beasiswa yang mendalami studi seputar gangguan tidur bisa menghubungi RS Medistra, Riset ini tidak hanya di Indonesia tapi bisa juga dilakukan di luar negeri” tambah dr. Rimawati.  @Rudi