LENSAINDONESIA.COM: Ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan menilai, beberapa Standard and Poors lembaga rating Internasional yang melakukan penundaan pemberian investment grade untuk Indonesia dan memilih keputusan yang berbeda dengan lembaga rating lainnya tidak logis dan patut dipertanyakan.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi tanda tanya. Diantaranya, kenaikan harga BBM dan kebijakan pemerintah memberlakukan pajak atas ekspor mineral.

“Dari yang saya baca ada dua faktor. Pertama, mengenai kebijakan kenaikan harga BBM. Kedua, kebijakan pemerintah untuk mengenakan pajak atas ekspor mineral. Saya tidak terlalu setuju dengan Standard & Poors mengenai keberatan mereka atas kebijakan pemerintah mengenakan pajak atas atas mineral,” ujar Anton Gunawan.

Menurut Anton, kekhawatiran Standard and Poors jika pemerintah mengenakan pajak pada ekspor mineral akan menurunkan investasi asing ke Indonesia, khususnya di tambang adalah salah.

“Jika mineral harus diproses dulu untuk meningkatkan nilai tambah atau add value di dalam negeri, dan tidak diperbolehkan diekspor mentah maka investasi juga bisa masuk ke kegiatan value added. Justru kebijakan pemerintah ini malah bagus” kata Anton.

Antonpun menjelaskan, investasi tidak akan turun bila mineral dikenai pajak. Terbukti, selama ini sudah ada yang berhasil.

“Lihat Kakao, berhasil. Kemudian, saya dengar rotan juga. Lalu, kenapa ini (mineral-red) tidak bisa dilakukan juga? Apakah ini ada kepentingan dari luar yang terkait. Karena, ada mining disitu,” tandas Anton.

Tak hanya itu, Anton juga menyepakati salah satu concern pemerintah dalam mengenakan pajak terhadap ekspor mineral. Lantaran, penerimaan pajak pemerintah dari mineral selama ini sangat kecil dibandingkan penerimaan dari minyak dan gas bumi.

Itu sebabnya ia sangat menyayangkan jika Standard & Poors justru menggunakan alasan ini menahan pemberian investment grade kepada Indonesia.

“Dan ini bahayanya adalah bila eksplorasinya besar-besaran yang mengakibatkan penurunan cadangan yang cepat sekali,” tambahnya. @aini