LENSAINDONESIA.COM: Geliat perdagangan komoditas sayur-mayur dan buah-buahan di Jawa Timur semakin kencang. Sejumlah pasar yang berbasis di Surabaya dan Sidoarjo memantabkan diri menjadi pusat perkulakan produk-produk agrobis.

Investor-pun tak segan-segan menggelontor dana hingga ratusan miliar rupiah guna mengembangkan pasar-pasar tersebut. Terhitung mulai Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS) di kawasan barat Surabaya sampai Puspa Agro di Sidoarjo, menyusul yang bakal berbenah adalah Pasar Buah Koblen.

PT. Dwi Budi Wijaya selaku investor pengembangan Pasar Buah Koblen untuk menjadikan pusat grosir buah-buah lokal dan impor kawasan Indonesia timur, siap menyuntikkan modal sebesar Rp 500 miliar di atas lahan seluas 4 hektar.

Direktur PT Dwi Budi Wiyaja, I Wayan Arcana menyatakan bahwa konsep Pasar Agrikultural Jalan Koblen sebagai pusat perkulakan buah ini akan sangat berbeda dengan pusat perkulakan komoditas agrobis lainnya. Pasalnya, lokasi pengembangan Pasar Koblen ini akan berdiri diatas lahan bekas Rumah Tahanan Militer (RTM) yang saat ditetapkan menjadi cagar budaya tipe C.

“Oleh karena ini adalah cagar budaya, maka konsep pusat perkulakan Pasar Koblen nantinya akan kami kemas dalam bentuk wisata heritage. Masyarakat bisa menikmati warisan sejarah sekaligus menyaksikan transaksi grosir buah bernilai miliaran rupiah per malam,” jelas Wayan, di Surabaya, Senin (30/4/2012).

Dia menjamin artefak-artefak sejarah RTM takkan dihilangkan, sebab hal itu akan menjadi kekuatan sendiri bagi Pasar Koblen nantinya. Dengan kata lain menjadi pembeda yang sangat mencolok dengan pusat-pusat perkulakan agrobis lainnya, disamping pembeda dari jenis komoditasnya yaitu khusus buah-buahan.

Wayan mengungkapkan, dari lahan yang ada saat ini telah difungsikan seluas 1 hektar yang mampu menampung 160 pedagang grosir buah. Jumlah tersebut telah berkembang dibandingkan dua tahun lalu yang hanya mampu menampung sebanyak 45 orang pedagang saja. PT DBW sendiri tercatat telah membeli lahan RTM melalui proses ruislag pada tahun 1990-an.

“Perizinan telah kami ajukan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan kami akan mempersiapkan 600 stan untuk ditempati para pedagang buah disini. Dengan pengembangan ini, transaksi perdagangan buah disini akan lebih moderen seiring perkembangan bisnis para pedagangnya seperti yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir,” ujarnya.

Wayan menambahkan, denyut perkembangan bisnis buah di pasar ini dapat dilihat dari tersedianya cold storage (ruang pendingin) yang dibangun oleh para pedagang sendiri. Terdapat empat unit cold storage di lokasi ini untuk menampung buah-buah impor sehingga kesegarannya tetap terjaga.
“Bila pengembangan ini tuntas, maka omzet di pasar ini diharapkan bisa meningkat berlipat-lipat dari omzet saat ini yang mencapai Rp 5 miliar setiap harinya,” katanya.

Seorang pedagang di lokasi tersebut, Farid, mengakui bahwa Pasar Koblen telah berkembang menjadi pusat perkulakan buah yang menampung buah-buah lokal dari berbagai daerah di Probolinggo, Jatim, Jawa Tengah, Bali, Palembang, Makassar. Jangkauan pasarnya mencapai berbagai wilayah nusantara, mulai Kalimantan, Sulawesi hingga mancanegara seperti Malaysia dan Brunei.

“Tujuh tahun yang lalu, kami berdagang di pinggir jalan. Setelah lima tahun, demi ketertiban lalu-lintas, kami menempati lahan bekas RTM ini. Jumlah pedagangpun bertambah dan putaran omzet disini mencapai Rp 5 miliar setiap malamnya,” ujar Farid.

Disebut omzet setiap malam, sebab transaksi perdagangan buah di pasar ini, sambung Farid, memang lebih banyak berlangsung pada malam hari karena para pedagang eceran harus menjual buahnya di siang hari sehingga mereka harus kulakan buahnya di malam hari untuk memperoleh buah-buah yang segar.

Dia mengklaim bahwa hampir seluruh jenis buah, baik lokal maupun impor ditransaksikan di pasar ini. Maka tak heran bila buah asal pasar ini diminati pusat-pusat perbelanjaan moderen seperti Carrefour, dan toko-toko buah.

“Mereka kulakan buah yang kualitas super atau A karena sesuai pangsa pasarnya di pasar moderen. Sedangkan untuk buah kualitas B dan C banyak diminati pedagang eceran kelas bawah,” papar Farid.

Koordinator Pedagang Pasar Koblen Haji Fauzan menegaskan bahwa sebanyak 160 pedagang buah di lokasi tersebut menyambut positif pengembangan pasar sebab pasar buah-buahan ini terus berkembang.

“Musim buah di Indonesia itu khan siklusnya setiap enam bulan. Kalau sedang musim rambutan, sekitar 60 hingga 70 truk pengangkut buah akan memenuhi area ini. Begitu juga ketika musim durian dan buah lainnya. Kalau tidak ada penataan pasar, maka akan semakin sesak dan semrawut,” ujarnya.@Iwan