Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE PROOTONOMI

Ekspedisi Khatulistiwa Sub Korwil 03/Psb Temukan Jejak Beruang Madu 

LENSAINDONESIA.COM: Tim Ekspedisi Khatulistiwa Sub Korwil 03/Psb kembali melakukan penelitian di Bukit Pana, Desa Mensiau, Batang Lupar, Kapuas Hulu, Kalimantan.

Sebelum melakukan penelitian, Tim yang diwakili Serda Dedy Kurniawan didampingi Jhon dari World Wide Fund for Nature (WWF) berkoordinasi dengan Kepala Desa Mensiau Silvier Berasap dan para tokoh masyarakat dan adat di desa itu terkait rencanapenelitian di bukit Pana dan meminta adanya seorang penunjuk jalan.

Menurut pimpinan Tim penelitian di bukit Pana Lettu Inf Priya Firmansyah mengatakan, tim selanjutnya memutuskan untuk bertolak ke tempat penelitian pada keesokan harinya setelah memastikan kendaraan dan tempat singgah disana.

“Tim telah banyak dibantu oleh masyarakat disana yang salah satunya adalah bidan desa Agustina M telah membantu kendaraan angkutan dan tempat untuk transit,” kata Priya pada Senin (4/6).

Seperti dikutip dari situs resmi Mabes TNI, dalam penelitian yang dilakukan di bukit Pana, Tim Peneliti Flora Fauna dan Kehutanan berjumlah 8 personil dimana tiga orang diantaranya dari mahasiswa UNPAD telah melakukan berbagai macam upaya penelitian. Tim peneliti yang bertugas melakukan penelitiannya di bukit Pana.

“Selama kegiatan penelitian di bukit Pana, tim dibantu Tabo, salah seorang warga desa Mensiau. Ia bertugas sebagai penunjuk jalan sekaligus memberikan informasi mengenai tumbuhan dan hewan-hewan yang tim jumpai selama penelitian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama 4 hari 3 malam melakukan penelitiannya di bukit Pana, Tim akui sangat sulit untuk menemui secara langsung binatang-binatang yang menjadi objek penelitian karena mereka tahu akan kehadiran manusia di habitatnya. Binatang-binatang obyek penelitian ini kerap kedapatan menghilang dengan cepat.

“Namun demikian, paling tidak melalui suara dan bekas atau jejak keberadaan binatang-binatang tersebut atau ada beberapa yang secara langsung dapat ditemukan, Tim telah mendapatkan data-data tentang keberadaan fauna diantaranya menemukan ular pucuk daun (Thimerusus albolabris) yang cantik namun sangat berbisa, monyet ekor

panjang (Macaca fascicularis), katak sungai, berbagai macam serangga, burung murai batu, burung kacer melalui perjumpaan langsung, serta menemukan keberadaan babi hutan dari sisa-sisa aktivitas pencarian makannya, beruang madu dari bekas cakaran di pohon,” unkap Priya.

Tak hanya itu saja, tim juga menemukan jejak orangutan dari keberadaan sarang, serta owa Kalimantan atau kelempiau (Hylobates muelleri), lutung dahi putih (Presbytis frontata), dan burung ruai. Selain fauna, tim juga menemukan jenis flora seperti jamur kuping yang berbeda dari yang ada pada umumnya, jambu hutan dan beberapa jenis daun-daunan yang dapat dikonsumsi.

Rencananya, usai mengambil data, tim peneliti flora fauna dan kehutanan kembali turun ke desa dengan menempuh jarak perjalanan selama empat jam, akhirnya sampailah di desa Mensiau. Tim peneliti ini akan kembali transit di gedung Posyandu desa Mensiau sambil menunggu kendaraan jemputan. Keesokan harinya perjalanan baru dilanjutkan ke Lanjak dan kembali ke Poskotis di Badau. @winarko