LENSAINDONESIA.COM: Maraknya praktik ‘Mafia Air’ di Bojonegoro diduga sebagai penyebab lahan pertanian gagal panen.

Dari dugaan sementara, mafia air tersebut dilakukan oleh sekelompok orang dengan cara mengambil air aliran sungai secara besar-besaran dengan menggunakan diesel.

Olah para kelumpok itu, air tersebut digunakan untuk mengairi sawah tertentu saja.

Akibat penyedotan air dalam jumlah besar itu, debit sungai yang bermuara dari Waduk Pacal dari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang itu semakin menipis. Akhirnya banyak sawah petani yang lokasinya berada di ujung sungai tidak kebagian pasokan air.

Jika hal ini tidak diberantas maka ribuan hektar sawah yang berada di Kecamatan Kanor dan Boereno terancam gagal panen.

Kondisi yang timpang ini memakasa Bupati Bojonegoro Suyoto akhirnya turun tangan. Bupati pun menerjunkan Tim Investigasi untuk mengusut para mafia air tersebut karena merugikan petani lainnya.

“Saya berharap ada tindakan hukum. Jika para mafia air tersebut terus merajalela, tindakannya akan merugikan banyak petani,” tegas Suyoto kepada LICOM, Selasa (5/6/2012).

Suyoto menambahkan, bahwa para pengurus Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Bojonegoro dan kelompok tani juga harus mematuhi aturan tanam yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian. Sebab, saat musim kemarau ini tidak semua lahan harus di tananami padi karena akan mempengaruhi kesuburan hara tanah. Apalagi, lanjut Bupati, air di Waduk Pacal sudah mengalami kritis.

Kades Ngemplak Kecamatan Boereno Turmudzi mengaku kesal dengan ulah kelompk petani yang menyedot air secara besar-besaran itu. Apalagi saat ini 100 hektare lebih lahan pertanian padi di desanya mengering dan terancam gagal panen.

“Air dari Waduk Pacal tidak sampai ke wilayahnya karena banyaknya mafia air. Aliran air dari waduk sekarang tak sampai ke eilayah kami,” ujar Turmudzi kesal.*hidayat