LENSAINDONESIA.COM: Pemberian kondom gratis sebagai alat kontrasepsi, di beberapa tempat strategis seperti Poliklinik Desa dan Puskemas ternyata peminatnya sedikit. Pasalnya, warga masih malu-malu menerima pemberian kondom tersebut.

“Kami menyebar sebanyak dua gros. Isinya srtiap gross 144 kotak. Dan tiap kotak ada satu lusin kondom. Sejak setahun lalu kondom itu tidak habis. Belum ada Puskesmas yang meminta pasokan lagi,” kata Agus Heri Bindarto, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan KB.

Dia mengatakan, kepesertaan KB jenis kondom hanya 3.153 orang atau 2,32 persen dari total peserta KB sebanyak 136.102 pasangan usia subur. “Itu hasil pendataan secara keseluruhan, baik yang swadaya atau yang biasa membeli kondom sendiri maupun yang terdata di Puskesmas. Karena, sering mengambil kondom gratisan itu. Memang minat masyarakat tidak terlalu besar,” kata dia.

Terkait tidak ada sosialisasi kondom ke remaja, Agus mengatakan, kegiatan itu tidak dilakukan. Hanya saja, sosialisasi berkaitan dengan perilaku seksual secara sehat dan benar dilakukan bersamaan dengan kampanye anti narkoba.

“Jadi, tidak semata-mata seperti yang digegerkan saat ini, menyosialisasikan kondom ke sekolah. Itu jelas tidak akan dilakukan. Yang kami sasar adalah pasangan usia subur yang memang potensial memiliki anak dalam jumlah banyak. Sehingga, perlu dikendalikan dengan KB,” jelasnya.

Dikatakan, kepesertaan KB terbanyak adalah suntik, yakni sebanyak 81.856 orang atau 60,14 persen. Disusul IUD 17.369 orang atau 12,76 persen, MOW 14.342 atau 10,56 persen, implant 10.204 orang atau 7,5 persen serta paling kecil kontrasepsi untuk pria baik kondom maupun steril untuk pria yang hanya 767 orang.

“Mengajak pria agar aktif menjadi akseptor KB memang sulit. Mereka memilih menyuruh istrinya saja yang menjadi peserta KB. Dirinya sendiri sulit diyakinkan, bahkan dengan menggunakan kondom sekalipun,” paparnya. @yuwana