LENSAINDONESIA.COM: Jelang Bulan Ramadhan, umat Islam menyambutnya dengan suka cita. Bulan puasa bagi umat Islam merupakan bulan suci yang selalu dinanti-nantikan setiap tahunnya.  Terlebih, bulan ramadhan merupakan bulan amal bagi umat Islam, didalamnya banyak sekali nilai Ibadah yang dilipat gandakan pahalanya serta bulan pengampunan atas dosa-dosanya.

Banyak cara tradisi umat islam dalam menyambut bulan Ramadlan. Di Jawa Timur, ada sebuah tradisi turun-temurun yang dilakukan sebagai pertanda pembukaan bulan Ramadhan, yaitu ‘megengan’.

Megengan merupakan ungkapan rasa senang, bahagia menyambut datangnya bulan ramadhan dengan cara shodakohan atau selamatan hingga berziarah ke makam leluhur. Megengan, adalah penghormatan kepada tamu Allah yaitu ramadhan, saking senengnya diwujudkan dengan tasyakuran sekaligus mengingatkan kepada umat islam.

“Mari kita sambut dengan suka, seperti dalam sabda nabi yang artinya barangsiapa yang suka terhadap hadirnya bulan ramadhhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka” Jelas Fatkhul Aziz Ketua Cabang NU Ponorogo.

Tokoh NU Ponorogo tersebut juga mengatakan bentuk Ibadah terbagi menjadi dua yaitu ‘Ibadah mahdloh’ (Ibadah yang ditentukan tatacaranya) dan Ibadah ‘Ghouiru mahdloh’ (Ibadah yang tidak ditentukan tata caranya).

“Pelaksanaan ibadah ghoiru mahdloh akan pasti bersentuhan dengan budaya setempat. Suatu missal, nasi itu mau ditaruh diatas piring, diatas kertas yang penting nasinya halal, tempatnya suci tidak masalah, soal bentuknya itu budaya”jelasnya.

Aziz mengatakan, megengan merupakan tradisi budaya yang memiliki semangat, ‘selagi diniatkan baik dengan cara yang baik akan bernilai Ibadah’. Terlebih tradisi sudah turun temurun. “Budaya pasti melalui perjalanan sejarah yang panjang, sesuatu yang sudah melembaga, pasti sudah melalui seleksi yang panjang” bebernya.

Lebih lanjut, Aziz mengungkapkan Ibadah yang tidak ditentukan caranya akan sangat berdekatan dengan tradisi budaya masing-masing daerah, dalam hal ini mengajak untuk menata hati, meluruskan niat semata-mata hanya karena Allah. “Ibadah yang bentuknya tidak ditentukan adalah semua kebaikan ketika diniatkan karena Allah akan bernilai ibadah” pungkas Aziz.*arso