Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Gambaran prestasi olah raga Indonesia tercermin pada naik turunnya prestasi bulu tangkis Indonesia. Pasalnya, dalam dua dekade terakhir, bulutangkis selalu menjadi patokan dan tumpuan olah raga Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi A. Mallarangengkepada wartawan, di Jakarta. Karena terlalu bertumpu itulah, jadi ketika prestasi bulutangkis turun maka akan dikuti menurunnya juga prestasi Indonesia. “Karena penurunan bulutangkis kita tidak terjadi dalam tahun ini saja, namun sudah dalam tiga tahun belakangan ini,” ujarnya.

Karena menjadi patokan, maka kedepannya, dirinya berharap selain tidak boleh lagi terlalu bertumpu pada cabang tersebut, tapi bulutangkis dimintanya juga diharuskan dapat bangkit lagi untuk event-event olahraga multicabang ke depannya, belajar dari kegagalan terakhir di London kemarin.

Untuk bangkit, Andi pun meminta agar di dalam tubuh organisasi kepengurusan federasi bulutangkis Indonesia (PB PBSI) ada perubahan secara mendasar. Mulai dari program pelatihan, rekrutmen, hingga regenerasinya.

“Saat ini di tim Indonesia saja masih ada Taufik Hidayat, padahal dirinya sudah termasuk senior, sudah empat kali olimpiade. Taufik juga pernah bilang, tolong jangan saya lagi, tapi apa memang ada yang bisa menggantikan posisinya saat ini? Belum ada kan,” tutur Andi.

Perubahan tersebut yang dinilainya sangat diperlukan bulutangkis Indonesia, jika ingin kembali berjaya di luar. Mulai fokus pada pembinaan usai muda untuk menghadapi ajang-ajang sekelas Olimpiade sejak dini.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Rita Subowo menuturkan, bahwa bulutangkis memang perlu dievaluasi secara keseluruhan, tapi tidak berarti pihaknya akan campuri internal PBSI. “Kita akan dengarkan hasil laporan mereka nanti seperti apa,” ucapnya.

Menurut dia, kegagalan bulutangkis dimungkinkan karena masalah non teknis, yakni mental. Dimana beban bulutangkis sebagai olah raga andalan membuat mental pemainnya menjadi berat. “Regenerasi adalah jawabannya.
Harus sejak saat ini, para induk organisasi, bulutangkis khususnya, mulai mencari bibit atlet buat dibina dan dipersiapkan untuk Olimpiade Rio de Janeiro. Misalnya, diperbaiki dari proses rekrutmennya, dengan pemilihan pemain yang memiliki postur tubuh yang bagus,” tuturnya.

Fokus pada pembenahan regenerasinya, tanpa perlu melihat target terlebih dahulu. Buat dirinya, buat apa juara turnamen bergengsi seperti All England tetapi akhirnya kalah di Olimpiade.

“Mind set harus diubah, bahwa olimpiade adalah raihan prestasi tertinggi atlet. Jadi jangan ketika sudah meraih gelar lalu cepat berpuas diri. Sekarang benahi, lalu dua tahun sebelum Olimpiade Rio fokus dengan meloloskan atlet bulutangkis sebanyak mungkin, baru di satu tahun terakhir fokus pada sektor-sektor potensi medali,” imbuh Rita menambahkan