Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
BALI / NTB / NTT / PAPUA

Pengamat: Pemerintah Indonesia Lemah Hadapi Freeport 

LENSAINDONESIA.COM: Kedaulatan bangsa sama dengan harga diri seseorang. Ini sangat sensitif dan mampu memunculkan kekuatan tak terduga diluar batas kebiasaan. Saat ini, Indonesia sudah pada situasi dimana hal-hal sensitif dinodai oleh tindakan yang sangat tidak manusiawi.

Demikian disampaikan pengamat politik Suluh Nusantara, Stefanus Asat Gusma dalam keterangan pers yang diterima LICOM, hari ini (Jumat, 14/9/12).

“Kedaulatan ekonomi dirampas oleh negara asing tanpa memunculkan rasa gelisah dari pemerintah yang harusnya bertanggungjawab menjaga dan melaksanakan konstitusi serta pilar bangsa. Kekayaan alam nusantara yang secara sah milik seluruh rakyat Indonesia dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing dan tidak menguntungkan rakyat Indonesia,” imbuhnya.

Dalam kondisi ini, kata Stefanus, pemerintah dianggap tidak berdaya dengan gaya main korporasi asing. Contohnya, bisa dilihat bagaimana arogansi Freeport yang menolak enam point renegosiasi. Mereka justru meminta perpanjangan kontrak dan pemerintah tidak mampu berbuat apa-apa.

Padahal, tambah Stefanus, enam point tersebut juga masih sangat normatif dan belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan nasional.

“Saat ini, pemerintah sangat lemah dan masyarakat tidak bisa lagi berharap banyak pada upaya diplomasi politik pemerintah. Sejarah mencatat pada situasi seperti ini gerakan pemuda cendikia selalu muncul untuk mendobrak keadaan. Sejarah juga mencatat pemuda mampu membangun kekuatan perubahan. Dan sudah saatnya pemuda saat ini melunasi utang untuk mengembalikan kedaulatan bangsa,” demikian mantan Ketua Presidium Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). @Ari

Baca Juga:  Proyek Ancol tertunda, Crown Group lebih pilih kembangkan properti Australia lagi