LENSAINDONESIA.COM: Mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid bareng ribuan kader PKS menegaskan, kebebasan agama dengan mencaci maki keyakinaan serta tokoh suci dari agama lain merupakan tindakan anarkis yang tidak dibenarkan oleh agama, bangsa manapun.

“Menista, caci maki tokoh itu bukan kebebasan berekspresi melainkan kebebasan anarki. Sesungguhnya salah besar kalau mereka tidak bisa menghukum dengan dasar kebebasan ekspresi,” kata Hidayat Nurwahid, dalam orasinya, Minggu (30/9/12) di Jakarta.

Amerika Serikat, kata Hidayat, jangan hanya demi sutradara Nakoula Basseley Nakoula, harus mengorbankan kewibawaan negara adikuasa itu.

Aksi damai penistaan agama, selain diikuti oleh ribuan kader PKS, juga dikuti tokoh nasional Sabam Sirait, tokoh Nahdatul Ulama Slamet Effendi Yusuf, tokoh-tokoh lintas agama serta anggota legislatif PKS di tingkat pusat dan daerah. Aksi dikawal oleh 500-700 petugas kepolisian.

Pada kesempatan itu, Ketua Fraksi PKS di DPR itu mengajak masyarakat Indonesia untuk menyikapi film “Innonce of Muslims” dengan tidak melakukan tindakan anarkis.

“Kita jangan menyikapi secara berlebihan, karena memang itu keinginan mereka agar umat Islam menjadi anarkis,” tegasnya seperti dikutip dari sejumlah portal online.

PKS, ujar Hidayat, mendukung langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendorong hadirnya Protokol Anti-Penistaan Agama dalam Sidang Umum PBB. Karena menurutnya, penistaan agama tidak benarkan oleh agama manapun.

Dalam waktu dekat, PKS akan mengunjungi sejumlah kedutaan besar negara-negara maju di Jakarta untuk memberikan pemahaman tentang Islam melalui buku yang berisikan geografi Nabi Muhammad SAW. @LI-13