LENSAINDONESIA.COM: Sebanyak 35 kelompok Mahasiswa enterpreneurship III (E3) Universitas Ciputra Surabaya mendapat kesempatan teleconference bersama owner perusahaan properti raksasa di Indonesia, Ciputra.

Jumlah kelompok mahasiswa enterpreneurship tersebut merupakan yang terbaik dari 135 kelompok mahasiswa di Universitas Ciputra Surabaya. Melalui teleconference, berbagai jenis usaha mereka pamerkan kepada Ciputra untuk diberi penilaian dan masukan untuk lebih maju.

“Saya merasa sangat terhormat sekali bisa diberi kesempatan untuk teleconference langsung dengan pak Ciputra. Dan masukan ini sangat bemanfaat untuk kita jalankan kedepannya,” ujar salah seorang perwakilan kelompok bisnis Universitas Ciputra, Wilson, Rabu (24/10/12).

Dalam kesempatan ini, Ciputra menyarankan untuk menjiwai enterpreneurship, harus terus melakukan edukasi pasar. Dengan melihat perkembangan produksi luar negeri yang telah buka cabang di Indonesia, serta menjadi pesaing di negara sendiri.

“Ini merupakan metode yang baru yang harus ditemukan dan dijalankan enterpreneur muda. Lihat bagaimana kinerja produk mancanegara di sini.

Baginya, pengembangan berbagai metode terbaru ini merupakan tantangan besar bagi enterpreneurship muda untuk menembus pasar.

“Tentu anda lebih tau dari saya. Prinsip harus melakukan sesuatu yang baru. Contoh penjualan produk melalui online. Itu namanya enterpreneur dan metode baru,” sambungnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Tony NY Antonio, menyampaikan, acara ini bagian dari proses perkuliahan di Mata Kuliah enterpreneurship smester 3 yang mengembangkan basis ritail. Dari 700 Mahasiswa tersebut, dibagi menjadi 135 kelompok bisnis ini dipamerkan kepada khalayak.

“Ingin mencoba diekspose keluar supaya terlatih dan bisa belajar kelompok. Kelompok bisnis ini Didanai oleh mahasiswa sendiri, kami hanya memfasilitasi saja,” ujarnya.

Lebih lanjut disebutkan, semua hasil pemikiran bisnis para mahasiswa ini diaplikasikan ke dalam dunia bisnis yg sesungguhnya. Mulai dari bisnis kuliner, properti, natural atau bahan mentah, barang olahan, garmen, jasa, aksesoris plus baju, dan lain sebagainya.

“2/3 komposisi bisnis enterpreneurship rata-rata di Indonesia memang dari kuliner, beda di AS dan eropa lain yang berbasis teknologi,” pungkasnya.

Dalam kesempatan ini, Ia berjanji akan berusaha mencari inovasi dan segmen pasar baru mengembangkan edukasi pasar. Khususnya pengembangan mahasiswa yang inovatif serta kreatif.@Panjichuby_666