Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharam penanggalan Hijriyah, Keraton Kanoman Cirebon selalu menyambutnya dengan pembacaan naskah Babad Alas Cirebon. Pada  tahun baru Islam 1434 Hijriyah ini ritual pembacaan Naskah Babad Alas Cirebon digelar dengan pembacaan sejarah singkat Babad Cirebon oleh Pangeran Muhammad Karim.

Dalam riwayat yang dibacakan itu dikatakan, lebih dari 7 Abad lalu Pangeran Walangsungsang dan Ratu Rarasantang, putra dan putri Prabu Siliwangi dari kerajaan Padjadjaran, dengan suka rela memeluk agama Islam.

Kedua kakak beradik ini kemudian bertemu dan berguru terhadap Syekh Datul Kahfi seorang ulama yang masih memiliki ikatan silsilah dengan Nabi Muhammad SAW. Pangeran Walangsungsang yang diberi gelar  Pangeran Cakrabuana kemudian menerima titah untuk melakukan proses dimulainya ‘Babad Cirebon’.

Pangeran walangsungsang atau pangeran cakrabuana atau Pangeran kian santang kemudian melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Ratu Rarasantang dalam perjalanan ke Mekkah akhirnya dipersunting dan dijadikan istri Raja Khute dari Mesir, sehingga tidak pulang ke tanah kelahirannya.

Usai menunaikan haji, Ratu Rarasantang diberi nama Hajjah Syarifah Mudaim sedangkan Raja Khute berganti nama menjadi Haji Somadullah, dan mempunyai anak Syekh Syarif Hidayatullah. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, yang menyebarkan Islam di Cirebon sekitar tahun 1588 Masehi (tahun 1510 saka jawa). Sunan Gunung Jati akhirnya, dikukuhkan dan pertama kalinya memimpin kesultanan Cirebon.@MochMansur